Magisterikom.umsida.ac.id – Perkembangan teknologi komunikasi dan perubahan pola belajar masyarakat mendorong perguruan tinggi untuk menghadirkan sistem pembelajaran yang lebih adaptif dan fleksibel.
Pendidikan pascasarjana, khususnya di bidang Ilmu Komunikasi, tidak lagi dapat bergantung sepenuhnya pada model pembelajaran tatap muka konvensional, mengingat karakter mahasiswa yang beragam serta dinamika dunia profesional yang terus berkembang.
Dalam konteks tersebut, sistem hybrid class menjadi salah satu inovasi pembelajaran yang relevan dan strategis.
Magister Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Magister Ikom Umsida) menerapkan sistem hybrid class sebagai bentuk respons terhadap kebutuhan akademik mahasiswa sekaligus sebagai upaya menjaga kualitas interaksi dan diskursus ilmiah.
Hybrid class tidak hanya dipahami sebagai penggabungan kelas luring dan daring, melainkan sebagai desain komunikasi pembelajaran yang memungkinkan proses pertukaran gagasan tetap berlangsung secara aktif, dialogis, dan bermakna.
Baca juga: Mengapa Podcast Menjadi Media Komunikasi yang Efektif di Era New Media?
Hybrid Class dalam Konteks Pendidikan Pascasarjana

Sistem hybrid class merupakan model pembelajaran yang mengombinasikan pertemuan tatap muka dengan pembelajaran daring secara terstruktur.
Dalam pendidikan pascasarjana, model ini memberikan ruang fleksibilitas tanpa menghilangkan esensi akademik.
Mahasiswa S2 umumnya merupakan pembelajar dewasa yang memiliki pengalaman profesional dan tanggung jawab di luar kampus.
Knowles (1984) menjelaskan bahwa pembelajaran orang dewasa menuntut fleksibilitas, relevansi, serta keterlibatan aktif peserta didik dalam proses belajar.
Oleh karena itu, hybrid class menjadi pendekatan yang sesuai dengan karakter mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi.
Melalui sistem ini, mahasiswa tetap dapat mengikuti perkuliahan secara optimal meskipun memiliki keterbatasan ruang dan waktu.
Lihat juga: Tak Sekadar Viral, Ikom Umsida Dorong Generasi Muda Hadirkan Konten Digital Bernilai
Hybrid Class sebagai Strategi Komunikasi Pembelajaran

Dalam perspektif ilmu komunikasi, pembelajaran merupakan proses komunikasi yang melibatkan pengiriman pesan, pertukaran makna, dan pembentukan pemahaman bersama.
Hybrid class memungkinkan proses komunikasi tersebut berlangsung dalam dua ruang sekaligus, yaitu ruang fisik dan ruang digital.
Garrison dan Vaughan (2008) menyebutkan bahwa pembelajaran hybrid dapat meningkatkan keterlibatan mahasiswa karena menggabungkan interaksi langsung yang bersifat spontan dengan pembelajaran daring yang reflektif.
Diskusi kelas tidak berhenti pada ruang tatap muka, tetapi dapat dilanjutkan melalui platform digital yang disediakan.
Dengan demikian, hybrid class di Magister Ikom Umsida bukan sekadar solusi teknis, melainkan strategi pedagogis yang menempatkan komunikasi sebagai inti proses pembelajaran.
Kesetaraan Partisipasi Mahasiswa Luring dan Daring
Salah satu prinsip utama dalam sistem hybrid class adalah kesetaraan partisipasi.
Mahasiswa yang mengikuti perkuliahan secara daring tetap memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk terlibat dalam diskusi, menyampaikan pendapat, serta mempresentasikan gagasan.
Dosen berperan penting dalam mengelola dinamika kelas agar tidak terjadi kesenjangan antara peserta luring dan daring.
Weick (1995) menekankan bahwa komunikasi berfungsi sebagai proses pembentukan makna bersama, sehingga seluruh peserta perlu dilibatkan secara aktif agar proses belajar berjalan efektif. Kesetaraan ini menciptakan suasana akademik yang inklusif dan kolaboratif.
Budaya Akademik dalam Ruang Hybrid
Penerapan hybrid class juga memengaruhi budaya akademik. Interaksi antara dosen dan mahasiswa tidak hanya terjadi secara langsung, tetapi juga melalui media digital yang menuntut etika dan kesadaran komunikasi.
Dalam konteks budaya Indonesia yang cenderung berorientasi pada relasi dan kesopanan, pengelolaan komunikasi dalam hybrid class perlu memperhatikan aspek psikologis dan sosial.
Hall (1976) menjelaskan bahwa masyarakat dengan budaya konteks tinggi sangat bergantung pada isyarat relasional, sehingga dosen perlu membangun kedekatan baik di ruang fisik maupun virtual.
Budaya akademik yang sehat dalam sistem hybrid tercermin dari dialog yang terbuka, saling menghargai, dan berorientasi pada pengembangan pemikiran kritis.
Peran Teknologi sebagai Media, Bukan Tujuan
Dalam sistem hybrid class, teknologi berfungsi sebagai media pendukung, bukan tujuan utama pembelajaran.
Platform konferensi video, sistem manajemen pembelajaran, dan media digital lainnya digunakan untuk memfasilitasi distribusi materi, diskusi, serta evaluasi pembelajaran.
Bernard et al. (2014) menegaskan bahwa efektivitas pembelajaran berbasis teknologi sangat bergantung pada desain interaksi dan kualitas komunikasi yang dibangun, bukan semata-mata pada kecanggihan perangkat.
Oleh karena itu, Magister Ikom Umsida menempatkan teknologi sebagai alat untuk memperkuat proses akademik, bukan menggantikannya.
Pengembangan Keterampilan Komunikasi Mahasiswa
Selain aspek akademik, sistem hybrid class turut berkontribusi dalam pengembangan keterampilan komunikasi mahasiswa.
Mahasiswa dilatih untuk menyampaikan gagasan secara lisan di kelas, berkomunikasi secara profesional di ruang digital, serta berkolaborasi dengan rekan yang hadir dalam moda berbeda.
Keterampilan ini relevan dengan kebutuhan dunia kerja yang semakin menuntut kemampuan komunikasi lintas media dan konteks.
Dengan demikian, hybrid class tidak hanya membekali mahasiswa dengan pengetahuan teoretis, tetapi juga kompetensi praktis.
Hybrid Class sebagai Proses Pembelajaran Berkelanjutan
Penting untuk dipahami bahwa hybrid class bukan model pembelajaran instan, melainkan proses yang terus berkembang. Evaluasi, penyesuaian, dan refleksi menjadi bagian penting dalam penerapannya.
Perubahan kebutuhan mahasiswa, perkembangan teknologi, serta dinamika sosial menuntut sistem pembelajaran yang adaptif.
Hybrid class memberikan ruang bagi fleksibilitas tersebut tanpa mengorbankan kualitas akademik.
Sistem hybrid class di Magister Ikom Umsida merupakan inovasi pembelajaran yang menjawab tantangan pendidikan pascasarjana di era digital.
Melalui penggabungan pembelajaran luring dan daring, sistem ini menghadirkan fleksibilitas, inklusivitas, serta kualitas komunikasi akademik yang tetap terjaga.
Hybrid class tidak hanya mempermudah akses pembelajaran, tetapi juga memperkuat budaya dialog, pemikiran kritis, dan pengembangan kompetensi komunikasi mahasiswa.
Dengan pengelolaan yang tepat, sistem ini menjadi bagian dari komitmen Magister Ikom Umsida dalam menghadirkan pendidikan yang relevan, adaptif, dan bermakna.
Penulis: Faradyta
Penyunting: Indah Nurul Ainiyah


















