Magisterikom.umsida.ac.id – Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan besar dalam dunia komunikasi.
Teknologi yang dulu terasa jauh kini menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.
AI mampu menulis artikel, membuat caption media sosial, menyusun desain visual, hingga menganalisis sentimen publik dalam waktu singkat.
Banyak pekerjaan komunikasi yang sebelumnya membutuhkan waktu dan tenaga manusia kini bisa dilakukan secara otomatis.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan yang cukup menggelisahkan, terutama bagi mahasiswa dan profesional komunikasi, jika mesin bisa mengerjakan hampir semuahal teknis, lalu apa peran manusia?
Apakah ilmu komunikasi terutama pada level lanjutan masih relevan di tengah dominasi teknologi?
Justru di titik inilah peran manusia menjadi semakin penting. AI tidak menghilangkan komunikasi, tetapi mengubah standar kompetensinya.
Dunia komunikasi kini bergerak dari sekadar produksi pesan menuju pengelolaan strategi dan makna.
Perubahan ini menandai apa yang bisa disebut sebagai The Mastermind Era,yaituera ketika nilai tertinggi komunikasi terletak pada kemampuan berpikir strategis, bukan hanya kemampuan teknis.
Baca juga: Membangun Personal Branding yang Kuat di Instagram: Strategi Visual, Narasi, dan Interaksi
Kemampuan AI dan Batasannya

AI memiliki keunggulan yang sangat jelas, cepat, efisien, dan mampu mengolah data dalam jumlah besar.
Ia bisa meniru gaya bahasa, mengikuti tren, bahkan menghasilkan pesan yang terdengar persuasif.
Namun, kecanggihan ini memiliki batas yang mendasar.
AI bekerja berdasarkan pola dan data masa lalu. Ia tidak memiliki pengalaman sosial, empati, atau tanggung jawab moral.
Mesin dapat menyusun pesan tentang isu kesehatan, tetapi tidak benar-benar memahami kecemasan masyarakat.
AI bisa membuat narasi politik yang rapi,tetapitidakmerasakanketegangansosialataukonflik nilai yang menyertainya.
Dalam praktik komunikasi, keterbatasan ini sangat krusial.
Komunikasi bukan hanya tentang “apa yang disampaikan”, tetapi juga “kapan”, “kepada siapa”, dan “denganrisikoapa”.
Kesalahan kecil dalam komunikasi krisis, reputasi, atau kebijakan publik dapat berdampak luas.
Keputusan semacam ini tidak bisa sepenuhnya diserahkan pada algoritma.
Di sinilah manusia tetap memegang peran utama. Komunikasi adalah proses membangun dan mengelola makna.
Ia membutuhkan kepekaan sosial, pertimbangan etis, dan kemampuan membaca situasi yang kompleks.
Lihat juga: Tak Sekadar Viral, Ikom Umsida Dorong Generasi Muda Hadirkan Konten Digital Bernilai
Perubahan Peran Profesional Komunikasi

Disrupsi AI tidak hanya mengubah cara kerja, tetapi juga mengubah identitas profesi komunikasi.
Selama ini, banyak peran komunikasi berfokus pada aspek teknis, menulis konten, mengelola media sosial, atau menjalankan kampanye.
Peran-peran ini kini semakin mudah digantikan oleh teknologi.
Sebaliknya, peran strategis justru semakin dibutuhkan.
Organisasi kini mencari individu yang mampu membaca data, memahami perilaku audiens, dan merancang strategi komunikasi yang tepat sasaran.
Bukan hanya soal membuat pesan,tetapi menentukan arah komunikasi secara keseluruhan.
Peran seperti strategic communicator, content strategist, atau narrative planner menuntut kemampuan analisis, pemahaman konteks sosial, dan pengambilan keputusan.
Kompetensi ini tidak cukup diperoleh dari pengalaman teknis semata, tetapi membutuhkan landasan teori, refleksi kritis, dan wawasan lintas disiplin.
Ilmu Komunikasi sebagai Fondasi Strategis
Dalam konteks ini, ilmu komunikasi tidak lagi hanya dipahami sebagai ilmu terapan.
Ia berkembang menjadi disiplin strategis yang membahas bagaimana pesan memengaruhi cara masyarakat berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan.
Kajian tentang psikologi audiens, sosiologi media, ekonomi politik komunikasi, hingga etika digital menjadi semakin relevan.
Mahasiswa tidak hanya belajar cara membuat pesan yang efektif, tetapi juga memahami dampak sosial dari pesan tersebut.
Pertanyaan yang diajukan pun menjadi lebih mendalam. Bagaimana algoritma memengaruhi persepsi publik?
Bagaimana komunikasi membentuk opini danlegitimasi kekuasaan?
Di mana batas etika ketika teknologi memungkinkan manipulasi informasi secara masif?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak memiliki jawaban sederhana.
Namun, justru di sinilah peran pendidikan komunikasi tingkat lanjut menjadi penting, melatih cara berpikir, bukan sekadar cara bekerja.
Kompetensi yang Bertahan di Tengah Perubahan
Perkembangan teknologi membuat masa depan karier semakin sulit diprediksi.
Banyak keterampilan teknis cepat menjadi usang. Ketergantungan pada satu jenis keahlian saja menjadi strategi yang berisiko.
Sebaliknya, kemampuan berpikir strategis, analisis kritis, dan kepemimpinan komunikasi cenderung lebih bertahan.
Individu dengan kompetensi ini mampu beradaptasi dengan perubahan, memahami dampak sosial teknologi, dan mengambil peran penting dalam pengambilan keputusan.
Ilmu komunikasi pada level strategis tidak menjanjikan kepastian karier, tetapi membekali individu dengan kemampuan membaca arah perubahan.
Kemampuan ini relevan di berbagai sektor, mulai dari korporasi, pemerintahan, organisasi non-profit, hingga industri kreatif.
Menempatkan AI secara Proporsional
Pada akhirnya, AI adalah alat yang sangat membantu, tetapi tetap memiliki keterbatasan.
Teknologi dapat mempercepat proses, membantu analisis, dan membuka peluang baru.
Namun, keputusan tentang arah komunikasi tetap harus diambil oleh manusia.
The Mastermind Era bukan tentang menolak teknologi, melainkan tentang menggunakannya secara bijak.
Di era ketika mesin mampu menulis dan berbicara, manusia justru dituntut untuk berpikir lebih dalam, bersikap lebih reflektif, dan bertanggung jawab atas makna yang dibangun.
Komunikasi, dalam konteks ini, bukan lagi sekadar keterampilan teknis.
Ia adalah praktik intelektual dan sosial yang menuntut kesadaran, etika, dan kepemimpinan.
Penulis : Rohmad Rifqi
Penyunting: Indah Nurul Ainiyah


















