Magisterikom.umsida.ac.id – Di tengah linimasa yang penuh unggahan pesta resepsi dan vendor pernikahan, narasi “Nikah di KUA” justru naik sebagai arus balik.
Fenomena ini dibedah dalam riset dosen Magister Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Dr Ferry Adhi Dharma MIKom, bersama Ghiffari Amrul Ramadhan, melalui analisis naratif atas praktik budaya digital di platform X.
Riset tersebut menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya menampilkan cerita pernikahan, tetapi ikut membentuk standar baru tentang wajar dan ideal dalam menikah.
Sederhana Bukan Karena Terpaksa
Dalam temuan mereka, banyak unggahan menonjolkan proses menikah di KUA yang minim biaya, bahkan nyaris tanpa ongkos, dengan administrasi yang dianggap lebih sederhana.
Narasi itu lalu dibandingkan dengan pernikahan konvensional yang sering menuntut biaya besar dan persiapan panjang.
Dari sana muncul pesan implisit: pernikahan yang bermakna tidak harus bertumpu pada kemewahan, karena bisa dicapai melalui kesederhanaan.
Yang menarik, kesederhanaan di sini bukan diposisikan sebagai akibat keterbatasan ekonomi, melainkan pilihan sadar yang dianggap lebih rasional, matang, dan autentik dibanding praktik pernikahan yang serba pamer.
Menurutnya, ketika pasangan memilih KUA, mereka sedang memindahkan pusat makna dari dekorasi dan gengsi menuju komitmen, ketenangan, serta keberfungsian hidup setelah akad.
Pilihan ini sekaligus menjadi bentuk presentasi diri, menampilkan citra menikah yang realistis dan membumi di hadapan publik digital.
Baca juga: Era Post-Truth: Ketika Framing dan Disinformasi Mengaburkan Kebenaran
Dari Cerita Pendek Menjadi Tren

Riset ini memotret bagaimana small stories di X status singkat, foto, atau video pendek berubah menjadi narasi kolektif lewat fitur retweet, like, dan reply.
Bahkan, peneliti menegaskan prosesnya terjadi melalui jejak digital, bukan wawancara, agar konteksnya tetap autentik.
Fokus utama analisis diarahkan pada unggahan akun @foodwillrescue yang memicu diskusi luas tentang praktik pernikahan minimalis.
Agar data betul-betul punya dampak sosial, hanya unggahan atau balasan yang mencapai sedikitnya 100 likes atau lebih dari 1.000 views yang masuk dataset.
Di titik ini, media sosial bekerja seperti mesin kurasi, yang dianggap relevan bukan semata paling benar, melainkan paling tervalidasi oleh interaksi.
Dalam banyak unggahan, kata kuncinya adalah rasa aman cukup legal dan tenang, tanpa resepsi, tanpa keramaian.
Ada pula penegasan bahwa KUA dipahami sebagai ruang yang sah secara negara dan sah secara agama, sehingga legitimasi tidak lagi dikejar lewat panggung sosial.
Lihat juga: Ukuran Perusahaan Jadi Penentu Strategi Kas? Ini Temuan Riset Dosen Akuntansi Umsida
Ketika Kesederhanaan Jadi Moral Superiority
Di ruang digital, kesederhanaan mudah bergeser dari pilihan personal menjadi standar moral.
Narasi Nikah di KUA menempatkan kesederhanaan sebagai nilai, dan secara halus membangun dikotomi sederhana berarti lebih dewasa, lebih realistis, lebih tulus.
Ketika logika ini diterima luas, ada risiko munculnya moral superiority seolah pasangan yang memilih resepsi otomatis kurang bijak atau terjebak gengsi.
Di sisi lain, riset juga mencatat adanya kritik terhadap tradisi pernikahan yang mengutamakan biaya tinggi dan konsumsi berlebihan, nikah di KUA tampil sebagai resistensi simbolik atas komersialisasi yang menekan pasangan muda.
Namun publik perlu jernih membaca dampaknya: siapa yang diuntungkan? Pasangan yang punya akses informasi, dukungan keluarga, serta keberanian melawan ekspektasi sosial cenderung lebih mudah menang dalam narasi ini.
Sebaliknya, mereka yang terikat tradisi keluarga, kebutuhan sosial tertentu, atau alasan budaya bisa tersudut oleh label tidak sederhana.
Di sinilah nilai riset ini: ia menunjukkan bahwa pilihan menikah bukan cuma urusan privat.
Di era X, keputusan personal menjadi bahan negosiasi publik, dan kesederhanaan dapat berubah menjadi identitas baru yang menginspirasi, sekaligus berpotensi menghakimi di ruang digital yang terus bergerak.
Sumber jurnal: The Narrative of “Marriage in Kua” on Social Media: A Narrative Analysis of Digital Cultural Practices on Platform X
Penulis: Indah Nurul Ainiyah


















