Mengapa Kita Sering Terjebak Berita Hoax?

Magisterikom.umsida.ac.id – Setiap kali medengar kabar bencana alam melanda suatu daerah atau suatu isu politik, kronologi media sosial dan grup percakapan keluarga kita hampir pasti mendadak riuh.

Foto atau video seperti letusan gunung, banjir bandang, hingga rekaman kepanikan warga menyebar sangat cepat hanya dalam hitungan menit.

Niat masyarakat yang membagikannya sebenarnya sangat sederhana dan baik ingin memberi tahu keluarga, menyampaikan rasa empati, atau sekadar saling mengingatkan.

Namun, di tengah situasi darurat dan rasa cemas yang tinggi, kita sering kali terburu-buru hingga lupa memeriksa kembali kebenaran dan keasliaan unggahan tersebut.

Tidak jarang, gambar yang mendadak viral di grup WhatsApp rupanya foto peristiwa beberapa tahun lalu, potongan video dari daerah lain yang dipotong konteksnya, atau bahkan rekayasa visual berbasis Artificial Intelligence (AI).

Fenomena ini menunjukkan betapa mudahnya masyarakat digital terjebak dalam arus informasi palsu saat situasi krisis terjadi.

Baca Juga: Cara Baru Masyarakat Menyampaikan Kritik Sosial Menggunakan Meme dan Budaya Visual Digital

Mengapa Kita Begitu Mudah Percaya dan Refleks Membagikan?

Sumber X @empety_core

Secara perspektif ilmu komunikasi dan psikologi media, manusia cenderung bertindak implusif ketika sedang berada dalam kondisi cemas atau panik, atau hanya sekedar homo.

Saat melihat gambar bencana yang mengerikan, atau info tentang politik emosi kita langsung terpacu untuk segera membagikannya kepada orang-orang terdekat sebagai bentuk dorongan alami untuk berkomentar.

Sayangnya, celah emosional masyarakat ini sering dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk mencari engagement, jumlah likes, atau sekadar sensasi.

Algoritma platform media sosial pun sangat menyukai konten-konten beremosi tinggi.

Akibatnya, unggahan yang memicu kepanikan dan konflik justru makin cepat terangkat ke permukaan dan menjangkau ribuan pengguna dalam waktu singkat.

Di sisi lain, pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) membuat batas antara kenyataan dan rekayasa visual semakin samar.

Gambar buatan AI sering kali memiliki pencahayaan, tekstur, dan detail yang sangat meyakinkan. Padahal, peristiwa dalam foto tersebut sama sekali tidak pernah terjadi di lapangan.

Ketika fakta asli dan rekayasa semakin sulit dibedakan, kepanikan publik pun menjadi semakin mudah tersulut.

Dampak Nyata di Lapangan dan Pentingnya Menahan Diri

Sumber Pexels

Penyebaran hoaks bencana bukan sekadar masalah salah paham atau riuh di kolom komentar media sosial.

Di dunia nyata, informasi palsu mengenai kabar bencana susulan, kerusakan bangunan, atau titik evakuasi yang keliru dapat membingungkan warga terdampak serta mengganggu fokus kerja tim penyelamat di lapangan.

Baca Juga: Komuka 2026 Meriahkan Semangat Kemerdekaan dengan Jalan Sehat, Lomba, dan Beragam Hadiah

Oleh karena itu, kemampuan literasi digital kini menjadi hal yang sangat krusial bagi seluruh lapisan masyarakat.

Literasi digital bukan lagi sebatas keterampilan teknis dalam mengoperasikan gawai, melainkan kesadaran etis untuk menahan jempol sejenak sebelum menekan tombol share.

Langkah sederhananya dapat dimulai dengan mengecek waktu unggahan (dateline), memperhatikan detail visual apakah tampak janggal atau wajar, serta selalu mengonfirmasi kabar ke sumber resmi seperti BMKG, BPBD, atau media massa yang terverifikasi.

Bagi dunia akademis, fenomena perilaku khalayak dan dinamika media sosial di tengah kondisi krisis ini menjadi topik kajian yang sangat relevan untuk diteliti.

Memahami bagaimana pesan dan informasi bergerak di era digital membantu kita merumuskan strategi komunikasi krisis yang lebih tepat, etis, serta berbasis pada empati kemanusiaan.

Magister Ilmu Komunikasi Umsida terus berkomitmen menjadi ruang diskusi dan analisis kritis untuk membedah berbagai fenomena media baru tersebut.

Memahami media hari ini berarti belajar menjadi pengguna yang bijak, agar rasa peduli yang kita miliki tidak justru berubah menjadi sumber kepanikan baru bagi orang lain.

Penulis: Shafiqa Azwa Lysandra

Nur Maghfirah A., M.Med.Kom

Nama:

Tanggal Lahir

Scholar:

OJS:

Scopus:

 

This will close in 20 seconds