Magisterikom.umsida.ac.id – Di ruang publik hari ini, data sering dianggap sebagai bukti paling kuat untuk meyakinkan masyarakat.
Angka statistik, hasil survei, grafik, dan laporan penelitian memang penting karena membantu menjelaskan suatu persoalan secara objektif.
Namun, dalam praktik komunikasi publik, data tidak selalu cukup untuk menggerakkan perhatian, membentuk opini, atau membuat seseorang merasa terlibat dalam sebuah isu.
Masyarakat tidak selalu merespons informasi hanya dengan logika.
Banyak orang memahami isu sosial, pendidikan, kesehatan, politik, atau ekonomi melalui pengalaman sehari-hari yang dekat dengan kehidupan mereka.
Di sinilah storytelling atau seni menyampaikan cerita memiliki kekuatan besar.
Narasi mampu membuat persoalan yang rumit menjadi lebih mudah dipahami, lebih manusiawi, dan lebih menyentuh.
Misalnya, angka tentang meningkatnya angka putus sekolah dapat menjelaskan besarnya masalah.
Tetapi cerita tentang seorang anak yang harus berhenti sekolah karena membantu orang tuanya bekerja dapat membuat publik lebih mudah memahami dampak nyata dari persoalan tersebut.
Data memberi gambaran besar, sedangkan cerita memberi wajah dan rasa pada persoalan itu.
Baca juga: Dosen Umsida Soroti Kesenjangan Penegakan Hukum dan Bahaya Trial by Media Digital
Narasi Membuat Isu Lebih Dekat dengan Kehidupan

Kekuatan narasi terletak pada kemampuannya menjembatani jarak antara informasi dan pengalaman manusia.
Data sering terasa jauh, kaku, dan hanya dipahami oleh kelompok tertentu.
Sebaliknya, cerita dapat masuk ke ruang emosional publik karena menghadirkan tokoh, konflik, harapan, dan nilai yang mudah dikenali.
Dalam opini publik, orang cenderung lebih mudah mengingat cerita dibandingkan angka. Hal ini terjadi karena cerita memiliki alur.
Ada awal, masalah, proses, dan akibat. Alur tersebut membuat pembaca atau pendengar merasa sedang mengikuti perjalanan, bukan sekadar menerima informasi.
Ketika seseorang merasa terhubung dengan sebuah cerita, peluang untuk memahami dan mempercayai pesan menjadi lebih besar.
Narasi juga membantu membentuk cara publik menafsirkan sebuah isu.
Isu yang sama dapat diterima secara berbeda tergantung bagaimana ia diceritakan.
Sebuah kebijakan digitalisasi pelayanan publik, misalnya, bisa dipahami sebagai kemajuan teknologi.
Namun, jika diceritakan melalui pengalaman warga lanjut usia yang kesulitan mengakses layanan online, publik akan melihat sisi lain yang perlu diperhatikan.
Karena itu, storytelling bukan sekadar teknik memperindah tulisan.
Ia adalah strategi komunikasi untuk membuat gagasan lebih hidup. Narasi yang baik tidak menggantikan data, tetapi membuat data lebih bermakna.
Lihat juga: Era Post-Truth: Ketika Framing dan Disinformasi Mengaburkan Kebenaran
Menggabungkan Data dan Cerita secara Bertanggung Jawab

Meski narasi memiliki kekuatan besar, penggunaannya tetap membutuhkan tanggung jawab.
Cerita yang menarik tetapi tidak didukung fakta dapat menyesatkan publik.
Sebaliknya, data yang benar tetapi disampaikan tanpa konteks dapat gagal membangun kesadaran.
Maka, komunikasi publik yang kuat seharusnya menggabungkan keduanya.
Data berfungsi sebagai fondasi agar sebuah pesan tetap akurat.
Narasi berfungsi sebagai jembatan agar pesan itu dapat dipahami dan dirasakan oleh masyarakat.
Ketika data dan cerita berjalan bersama, opini publik dapat terbentuk secara lebih sehat, tidak hanya berdasarkan emosi, tetapi juga berdasarkan pemahaman yang utuh.
Bagi dunia akademik, kemampuan membaca bahasa publik menjadi semakin penting.
Pengetahuan tidak cukup hanya diproduksi dalam ruang kelas atau jurnal ilmiah. Ia juga perlu diterjemahkan menjadi pesan yang mudah dipahami masyarakat.
Di titik inilah storytelling dapat menjadi cara untuk menghadirkan ilmu secara lebih ramah, relevan, dan berdampak.
Pada akhirnya, publik tidak hanya membutuhkan angka untuk percaya. Publik juga membutuhkan cerita untuk merasa dekat, memahami, dan peduli.
Data menjelaskan apa yang terjadi, tetapi narasi membantu publik memahami mengapa hal itu penting.
Penulis: Indah Nurul Ainiyah


















