Komunikasi Digital Cepat, Namun Belum Tentu Membangun Kedekatan Organisasi

Magisterikom.umsida.ac.id – Era kerja hybrid membawa perubahan besar dalam budaya organisasi.

Jika dulu komunikasi banyak terjadi secara langsung di ruang kerja, kini sebagian besar interaksi berpindah ke ruang digital.

Rapat dilakukan melalui Zoom atau Google Meet, koordinasi berlangsung lewat grup pesan, dan keputusan sering dibahas melalui dokumen daring.

Hybrid Mengubah Cara Organisasi Berkomunikasi

Perubahan ini membuat organisasi terlihat lebih fleksibel. Pegawai dapat bekerja dari berbagai tempat, waktu menjadi lebih efisien, dan teknologi membantu pekerjaan tetap berjalan.

Namun, fleksibilitas tersebut juga membawa tantangan baru. Komunikasi tidak selalu menjadi lebih efektif hanya karena semua orang terhubung secara digital.

Sumber: Pexels

Dalam budaya komunikasi organisasi, interaksi bukan hanya soal menyampaikan pesan.

Komunikasi juga membentuk rasa kebersamaan, kepercayaan, nilai kerja, dan identitas organisasi.

Ketika interaksi terlalu banyak bergantung pada layar, hubungan antaranggota organisasi bisa terasa lebih jauh.

Orang tetap bekerja bersama, tetapi belum tentu merasa benar-benar terhubung.

Baca juga: Dosen Umsida Soroti Kesenjangan Penegakan Hukum dan Bahaya Trial by Media Digital

Zoom Fatigue dan Fragmentasi Komunikasi Internal

Salah satu tantangan paling terasa dalam budaya hybrid adalah Zoom fatigue atau kelelahan akibat terlalu sering mengikuti rapat virtual.

Rapat daring memang praktis, tetapi jika dilakukan terus-menerus, pegawai dapat merasa jenuh, sulit fokus, dan kehilangan energi komunikasi.

Masalahnya, banyak organisasi masih menganggap rapat virtual sebagai solusi utama untuk semua kebutuhan koordinasi.

Padahal, tidak semua pesan perlu disampaikan melalui rapat. Beberapa informasi cukup dibagikan melalui pesan tertulis, dokumen kerja, atau pembaruan singkat.

Sumber: Pexels

Jika semua hal dijadikan rapat, komunikasi justru berubah menjadi beban.

Selain itu, komunikasi internal juga mudah terfragmentasi. Satu informasi bisa tersebar di banyak kanal, seperti WhatsApp, email, Slack, Google Drive, atau grup kecil antaranggota tim.

Akibatnya, tidak semua orang menerima informasi yang sama pada waktu yang sama.

Situasi ini dapat menimbulkan salah paham, tumpang tindih pekerjaan, hingga munculnya kelompok informasi di dalam organisasi.

Di sinilah media richness theory menjadi relevan. Teori ini menjelaskan bahwa setiap media komunikasi memiliki tingkat kekayaan berbeda.

Rapat video cocok untuk diskusi kompleks, membangun kesepahaman, atau membahas isu sensitif.

Namun, untuk informasi teknis dan rutin, media tertulis sering lebih efektif karena mudah dilacak kembali.

Organisasi hybrid perlu memilih media sesuai kebutuhan pesan, bukan sekadar mengikuti kebiasaan digital.

Lihat juga: Data Menjelaskan, Cerita Menggerakkan: Memahami Opini Publik di Era Digital

Trust Menjadi Kunci Budaya Organisasi Digital

Dalam organisasi hybrid, trust atau kepercayaan menjadi unsur penting.

Ketika pemimpin tidak selalu melihat pegawai bekerja secara langsung, ukuran kinerja tidak bisa lagi hanya berdasarkan kehadiran fisik.

Organisasi perlu membangun budaya kerja yang berorientasi pada tanggung jawab, hasil, dan komunikasi yang terbuka.

Kepercayaan juga diperlukan antaranggota tim. Tanpa kepercayaan, kerja hybrid mudah melahirkan kecurigaan.

Ada yang merasa bekerja lebih banyak, ada yang merasa tidak mendapat informasi, dan ada pula yang merasa kontribusinya tidak terlihat.

Jika dibiarkan, kondisi ini dapat melemahkan budaya organisasi. Karena itu, komunikasi hybrid harus dirancang secara sadar.

Organisasi perlu memiliki aturan kanal komunikasi yang jelas, jadwal rapat yang wajar, dokumentasi kerja yang rapi, serta ruang informal untuk menjaga kedekatan sosial.

Budaya organisasi digital tidak tumbuh hanya karena ada teknologi, tetapi karena ada kebiasaan komunikasi yang sehat.

Pada akhirnya, efektivitas komunikasi di era hybrid bukan ditentukan oleh seberapa sering organisasi mengadakan rapat virtual.

Efektivitas justru terlihat dari apakah pesan dipahami, pekerjaan berjalan, hubungan tetap terjaga, dan kepercayaan tetap tumbuh.

Teknologi hanya alat, sedangkan budaya komunikasi tetap menjadi fondasi utama organisasi.

Penulis: Indah Nurul Ainiyah

Nur Maghfirah A., M.Med.Kom

Nama:

Tanggal Lahir

Scholar:

OJS:

Scopus:

 

This will close in 20 seconds