Magisterilkom.umsida.ac.id – Karya musik tidak lagi hanya hadir sebagai hiburan, tetapi juga menjadi ruang komunikasi visual yang sarat makna.
Baca Juga: Komunikasi Digital Cepat, Namun Belum Tentu Membangun Kedekatan Organisasi
Hal ini menjadi perhatian dalam artikel ilmiah berjudul “Tafsir Semiotik: Perpisahan Bukan Akhir dalam Gala Bunga Matahari” karya Abdul Yudha Fahrezha Listianto bersama Poppy Febriana dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida).
Artikel tersebut terbit dalam Jurnal PIKMA Volume 8 Nomor 2, Maret 2026, halaman 380–397. Penelitian ini mengkaji video klip Gala Bunga Matahari karya Sal Priadi melalui pendekatan semiotika Roland Barthes untuk membaca makna denotasi, konotasi, dan mitos yang muncul melalui simbol-simbol visual.
Melalui kajian ini, video klip tidak diposisikan sekadar sebagai pelengkap lagu. Lebih dari itu, video klip dibaca sebagai teks komunikasi visual yang mampu membangun narasi tentang kehilangan, harapan, cinta, dan keterhubungan spiritual lintas generasi.
Video Klip sebagai Teks Komunikasi Visual
Dalam penelitian tersebut, video klip Gala Bunga Matahari dipahami sebagai media komunikasi yang memadukan unsur audio, visual, teks, warna, pencahayaan, gestur, hingga komposisi ruang. Semua unsur itu membentuk tanda yang dapat ditafsirkan secara berlapis.
Pendekatan semiotika Roland Barthes digunakan karena mampu membaca makna pada tiga tingkatan. Pertama, makna denotatif atau makna literal yang tampak secara langsung. Kedua, makna konotatif atau makna simbolik yang berkaitan dengan emosi, budaya, dan pengalaman kolektif. Ketiga, mitos sebagai sistem makna ideologis yang membuat nilai tertentu tampak wajar dan diterima masyarakat.
Penelitian ini menyoroti bahwa Gala Bunga Matahari menghadirkan representasi kehilangan dengan cara berbeda dari banyak video klip populer lainnya. Jika sejumlah video klip menampilkan kesedihan secara realistis melalui ekspresi tokoh, karya Sal Priadi justru membangun suasana reflektif melalui ruang kosmik, bulan, sungai susu, cahaya, dan bunga matahari.
Dengan cara itu, kehilangan tidak ditampilkan sebagai akhir yang gelap. Kehilangan dibaca sebagai perjalanan batin yang membawa seseorang menuju penerimaan, ketenangan, dan kesadaran spiritual.
Bunga Matahari, Bulan, dan Simbol Kehilangan
Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah peran bunga matahari sebagai simbol utama. Bunga matahari tidak hanya hadir sebagai objek visual, tetapi menjadi perantara komunikasi batin antara tokoh yang masih hidup dan sosok yang telah pergi.
Dalam beberapa adegan, bunga matahari muncul sebagai tanda harapan, kesetiaan, dan cinta yang tetap bertahan meskipun seseorang telah tiada. Mekarnya bunga matahari dimaknai sebagai pesan spiritual, sementara bunga yang layu menggambarkan dilema batin antara bertahan dan melepaskan.
Selain bunga matahari, penelitian ini juga menafsirkan bulan sebagai ruang transendental. Bulan digambarkan sebagai tempat sunyi, damai, dan reflektif. Kehadiran tokoh anak kecil di bulan menunjukkan bahwa ruang tersebut bukan sekadar latar visual, tetapi simbol dunia spiritual tempat jiwa beristirahat.
Sementara itu, sungai susu dalam video klip dimaknai sebagai simbol kedamaian jiwa. Aliran sungai tersebut menjadi tanda bahwa sosok yang telah pergi berada dalam ruang yang tenang, jauh dari penderitaan. Unsur cahaya, kunang-kunang, dan lambaian tangan turut memperkuat narasi bahwa komunikasi emosional tetap berlangsung meski telah terpisah oleh kematian.
Penelitian ini juga membaca adegan pelukan antara Gala kecil dan gadis kecil sebagai bentuk penyatuan spiritual. Pelukan tersebut menjadi simbol penerimaan bahwa perpisahan bukan akhir, melainkan perubahan bentuk kehadiran cinta.
Perpisahan Bukan Akhir dari Cinta
Kesimpulan utama penelitian ini menegaskan bahwa Gala Bunga Matahari tidak hanya menyampaikan pesan artistik, tetapi juga membangun wacana kultural tentang kehidupan, kematian, dan cinta yang abadi. Video klip ini menghadirkan kehilangan sebagai pengalaman yang reflektif, rohaniah, dan berkesinambungan.
Pada level denotatif, video klip menampilkan hubungan emosional antara dua tokoh dari dunia berbeda. Pada level konotatif, bunga matahari, bulan, sungai, gestur, dan cahaya membangun makna tentang harapan, kerinduan, serta penerimaan. Pada level mitos, video klip ini memperkuat keyakinan bahwa cinta dan kenangan terhadap orang yang telah pergi tetap hidup dalam kesadaran orang yang ditinggalkan.
Baca Juga: Lokakarya Kurikulum MIST Umsida Perkuat Arah Magister Berbasis Industri
Kajian ini memberi kontribusi penting bagi pengembangan studi komunikasi visual, khususnya dalam membaca video klip musik sebagai teks budaya. Melalui pendekatan semiotika, karya populer seperti Gala Bunga Matahari dapat dipahami bukan hanya dari sisi estetika, tetapi juga dari cara ia membentuk persepsi audiens terhadap duka, cinta, dan spiritualitas.


















