Magisterikom.umsida.ac.id – Di dunia yang semakin terhubung, media sosial telah menjadi alat utama dalam membentuk pandangan dan pendapat publik.
Namun, ada elemen yang jarang terlihat di balik setiap feed yang kita scroll yakni algoritma.
Algoritma media sosial kini berperan sebagai editor yang menentukan apa yang kita lihat dan apa yang tidak, siapa yang terdengar, dan siapa yang terabaikan.
Mereka menjadi gatekeeper baru dalam dunia digital yang memengaruhi wacana publik, membentuk opini, dan bahkan dapat memperburuk polarisasi sosial.
Baca juga: Instagram Jadi Senjata Baru PR: Strategi Kreatif N3 Unique Creativity EO dalam Membangun Brand Image
Algoritma: Pencipta Gatekeeper Digital
Sebelum adanya media sosial, berita dan informasi melewati berbagai filter, mulai dari jurnalis hingga editor.
Proses ini mengutamakan prinsip editorial yang diharapkan mampu menjaga keberagaman sudut pandang.
Namun kini, algoritma telah menggantikan peran tersebut. Ketika kita membuka platform seperti Instagram, Twitter, atau Facebook, kita tidak lagi melihat segala macam informasi secara acak.
Algoritma bekerja di belakang layar, menentukan apa yang harus kita lihat berdasarkan preferensi, riwayat interaksi, dan data pribadi kita.
Dalam hal ini, algoritma bertindak sebagai gatekeeper yang memfilter aliran informasi, memilih berita dan konten yang dinilai paling relevan dengan minat kita.
Tapi apa yang terjadi ketika hanya perspektif tertentu yang terus menerus ditampilkan?
Inilah yang menjadi masalah utama dalam dunia media sosial yang dikuasai algoritma menjadi semakin terbatas dalam perspektif dan informasi yang kita konsumsi.
Lihat juga: Khusyuk Versus Viral, Menata Ramadan di Era TikTok dan Notifikasi
Echo Chamber dan Filter Bubble: Dunia yang Makin Terbatas

Fenomena echo chamber dan filter bubble semakin menguat dalam era algoritma.
Echo chamber terjadi ketika seseorang hanya terpapar pada informasi yang sudah sejalan dengan keyakinannya, menciptakan ruang di mana pendapat yang berseberangan menjadi semakin jarang didengar.
Hal ini diperparah dengan filter bubble, yaitu kecenderungan algoritma untuk hanya menampilkan konten yang sesuai dengan preferensi kita, memperkuat bias yang sudah ada.
Fenomena ini bukan tanpa dampak. Ketika algoritma memilihkan konten yang kita anggap benar dan menyingkirkan informasi yang berpotensi bertentangan, kita menjadi lebih tertutup dan terisolasi dalam pandangan kita.
Seiring waktu, pandangan tersebut menjadi lebih ekstrem dan radikal.
Perbedaan pendapat yang sehat, yang seharusnya menjadi ciri khas demokrasi, malah terkikis, dan ruang diskusi yang terbuka menjadi semakin sempit.
Kekuasaan Platform dalam Demokrasi Digital
Platform media sosial, yang dikuasai oleh algoritma, memegang kekuasaan besar dalam menentukan wacana publik.
Mereka bukan hanya mengendalikan aliran informasi, tetapi juga memengaruhi opini publik secara tidak langsung.
Dalam dunia demokrasi, seharusnya keberagaman suara dijaga, dan semua pihak memiliki kesempatan yang setara untuk menyampaikan pendapat.
Namun, platform seperti Facebook dan Twitter memberikan pengaruh besar terhadap opini masyarakat dengan cara yang tidak selalu transparan.
Perusahaan teknologi yang mengendalikan platform ini memiliki agenda tersendiri.
Mereka mengutamakan konten yang mendatangkan banyak interaksi clicks dan likes bukan konten yang paling objektif atau mendidik.
Hasilnya adalah komodifikasi opini dan informasi, di mana perhatian kita dijadikan sebagai produk yang diperjualbelikan.
Sebagai dampaknya, platform digital mulai berperan sebagai kekuatan politik yang bisa mengatur siapa yang bisa berbicara dan siapa yang akan didengar dalam ruang publik.
Di balik algoritma yang bekerja tanpa henti di setiap platform media sosial, ada kekuatan yang mengendalikan wacana publik dan itu bukanlah kita, pengguna.
Algoritma bukan hanya mengatur aliran informasi, tetapi juga membentuk opini dan menentukan siapa yang bisa mengakses suara mereka di dunia digital.
Dalam demokrasi digital, kita harus berhati-hati dan kritis terhadap filter yang diterapkan oleh platform, karena kebebasan berbicara yang sejati hanya dapat tercipta jika ada keberagaman pandangan yang dihargai dan didengar.
Penulis: Indah Nurul Ainiyah


















