TikTok dan FoMO Bukan Satu Satunya Pemicu Belanja Impulsif Mahasiswa

Magisterikom.umsida.ac.id – TikTok hari ini sering dianggap sebagai biang keladi belanja impulsif mahasiswa.

Anggapan itu tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak cukup.

Penelitian Dr Didik Hariyanto dan Risma Dewi Wahyu Mufti tentang pengaruh content marketing di TikTok dan FoMO terhadap impulsive buying pada mahasiswa Umsida justru menunjukkan hal yang lebih menarik, kedua faktor itu memang berpengaruh signifikan, tetapi hanya menjelaskan 28,7 persen dari perilaku pembelian impulsif.

Sisanya, sebesar 71,3 persen, dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam riset ini.

Di sinilah letak temuan yang paling penting, karena masalah belanja spontan mahasiswa ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar konten menarik dan rasa takut ketinggalan tren.

Baca juga: Kreator Digital di Persimpangan Antara AI dan Orisinalitas

TikTok Memang Kuat Tetapi Bukan Satu Satunya Jawaban

Penelitian ini dilakukan pada 140 mahasiswa Umsida pengguna TikTok yang pernah berbelanja melalui TikTok Shop.

Hasilnya jelas, yakni content marketing berpengaruh terhadap impulsive buying dengan signifikansi 0,006, sementara FoMO juga berpengaruh signifikan dan positif dengan nilai 0,000.

Secara simultan, keduanya sama-sama berpengaruh terhadap keputusan pembelian impulsif.

Namun angka Adjusted R Square sebesar 0,287 menjadi penanda bahwa penjelasan tentang perilaku konsumtif mahasiswa tidak berhenti pada dua variabel itu saja.

Temuan ini penting karena publik sering terlalu cepat menyederhanakan masalah.

Seolah-olah mahasiswa belanja impulsif hanya karena “keracunan TikTok” atau karena takut tertinggal tren. Padahal, riset ini justru membuka celah analisis yang lebih besar.

TikTok memang berperan sebagai pemicu, tetapi bukan aktor tunggal.

Menurut Dr Didik Hariyanto, hal ini menunjukkan bahwa pembelian impulsif mahasiswa perlu dibaca lebih luas, sebab content marketing dan FoMO memang berhasil memengaruhi perilaku belanja, tetapi masih ada banyak faktor lain yang ikut membentuk keputusan tersebut.

Lihat juga: Generasi Z dan Negosiasi Identitas: Menavigasi Aktivisme dan Popularitas di Ruang Digital

Faktor Lain yang Diam Diam Lebih Besar Pengaruhnya
Sumber: Pexels

Di bagian kajian pustaka dan pembahasan, artikel ini menyebut bahwa pembelian impulsif dapat dipengaruhi oleh promosi, motivasi, emosi positif, diskon, kebiasaan berbelanja, dan gaya hidup.

Penelitian terdahulu yang dirujuk penulis juga memperlihatkan adanya pengaruh promosi penjualan, persepsi harga, bahkan kecemasan terhadap pembelian impulsif.

Artinya, mahasiswa bisa saja membeli bukan hanya karena konten TikTok menarik, tetapi juga karena sedang ingin menghadiahi diri sendiri, tertarik pada potongan harga, ingin mengikuti gaya hidup tertentu, atau terbiasa menjadikan belanja sebagai pelampiasan emosi.

Ini bagian yang sering diabaikan. Banyak orang menyalahkan platform, tetapi lupa bahwa perilaku impulsif tumbuh dari pertemuan antara teknologi, emosi, kebiasaan, dan lingkungan sosial.

Jika 71,3 persen sisanya berasal dari faktor lain, maka pembacaan yang hanya menyalahkan TikTok justru terlalu dangkal. Itu membuat solusi juga jadi setengah matang.

Mahasiswa Perlu Belajar Membaca Diri Sendiri

Bagi mahasiswa, temuan ini seharusnya menjadi pengingat bahwa literasi digital tidak cukup hanya berarti bisa memakai aplikasi.

Literasi digital juga berarti mampu mengenali kapan diri sedang dipengaruhi diskon, suasana hati, tekanan sosial, atau keinginan terlihat relevan di tengah tren.

Belanja impulsif bukan cuma soal tombol checkout yang terlalu dekat, tetapi juga soal kontrol diri yang sering terlalu jauh.

Karena itu, opini paling tajam dari penelitian ini justru bukan bahwa TikTok berbahaya, melainkan bahwa perilaku konsumtif mahasiswa lahir dari ekosistem yang lebih rumit.

Platform memang memancing, FoMO memang menekan, tetapi keputusan akhir tetap dibentuk oleh banyak lapisan lain.

Jika penelitian lanjutan mampu membedah 71,3 persen yang belum terjelaskan itu, pemahaman tentang mahasiswa sebagai konsumen digital akan jauh lebih jujur, tajam, dan berguna.

Sumber: Pengaruh Content Marketing di Tiktok dan FOMO (Fear Of Missing Out) terhadap Impulsive Buying pada Mahasiswa UMSIDA

Penulis: Indah Nurul Ainiyah

Nur Maghfirah A., M.Med.Kom

Nama:

Tanggal Lahir

Scholar:

OJS:

Scopus:

 

This will close in 20 seconds