Magisterikom.umsida.ac.id – Di era digital yang serba cepat, informasi datang begitu mudahnya, namun sering kali kebenaran menjadi kabur.
Kita hidup di zaman post-truth, di mana perasaan dan emosi lebih berpengaruh daripada fakta dan bukti dalam membentuk opini publik.
Polarisasi politik yang semakin tajam, disinformasi yang terus beredar, serta peran buzzer dan framing menjadi beberapa faktor yang memperburuk kondisi ini.
Dalam dunia yang terhubung melalui media sosial, kebenaran seolah bukan lagi hal yang mutlak, melainkan sesuatu yang bisa dipilih sesuai dengan preferensi pribadi.
Baca juga: Algoritma sebagai Editor Tak Terlihat: Siapa yang Mengendalikan Wacana Publik?
Polarisasi Politik: Ketika Kebenaran Dibagi Menjadi Dua
Salah satu dampak terbesar dari era post-truth adalah polarisasi politik yang semakin dalam.
Di dunia yang seharusnya menjunjung tinggi perbedaan pendapat, kini kita justru terbelah dalam dua kubu besar yang saling memusuhi.
Polarisasi ini tidak hanya terjadi di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya, di mana media sosial memfasilitasi penyebaran informasi yang memperkuat pandangan masing-masing pihak.
Dalam polarisasi ini, kebenaran sering kali menjadi relatif. Sebuah fakta bisa diterima atau ditolak tergantung pada apakah itu mendukung atau bertentangan dengan pandangan politik seseorang.
Hal ini menciptakan ruang di mana kebenaran bukan lagi sebuah konsensus berdasarkan bukti, tetapi sebuah pilihan yang ditentukan oleh pihak-pihak yang memiliki kekuatan untuk memengaruhi opini publik.
Lihat juga: Khusyuk Versus Viral, Menata Ramadan di Era TikTok dan Notifikasi
Disinformasi: Kebenaran yang Terselubung

Salah satu fenomena yang semakin mengkhawatirkan di era post-truth adalah penyebaran disinformasi.
Dalam dunia yang penuh dengan informasi yang dapat diakses hanya dengan sekali klik, kita sering kali terpapar pada berita-berita yang tidak terverifikasi kebenarannya.
Disinformasi ini dapat menyebar dengan sangat cepat, terutama ketika disebarkan oleh akun-akun yang memiliki banyak pengikut atau oleh buzzer yang dibayar untuk mengarahkan opini publik.
Disinformasi yang sengaja disebarkan untuk merusak citra atau memanipulasi opini bisa mengacaukan persepsi masyarakat tentang suatu peristiwa.
Kebenaran yang sebenarnya bisa dengan mudah tertutupi oleh narasi yang dibangun untuk mendukung agenda tertentu.
Di sini, fakta menjadi tidak lagi relevan jika sudah terlanjur dibungkus dengan narasi yang emosional dan menggugah hati.
Peran Buzzer dan Framing dalam Mempengaruhi Opini Publik
Framing adalah salah satu teknik yang sering digunakan untuk mempengaruhi cara kita memahami suatu isu.
Dalam dunia post-truth, framing tidak hanya dilakukan oleh media mainstream, tetapi juga oleh individu atau kelompok tertentu yang memiliki akses untuk menyebarkan pesan mereka.
Buzzer, yang sering kali digunakan untuk memperkuat framing ini, bekerja dengan cara memanipulasi emosi masyarakat agar lebih reaktif terhadap isu tertentu, tanpa memperhatikan kebenaran yang ada.
Buzzer dan framing menciptakan ilusi bahwa opini yang mereka sampaikan adalah kebenaran yang tak terbantahkan, padahal itu hanya sebuah perspektif yang dibentuk untuk mendukung tujuan politik atau bisnis tertentu.
Ketika masyarakat terjebak dalam narasi ini, kebenaran yang sebenarnya semakin sulit untuk ditemukan.
Yang lebih parah, polarisasi semakin dalam dan kita semakin sulit untuk melihat satu sama lain sebagai sesama manusia dengan pendapat yang sah.
Era post-truth adalah era di mana kebenaran menjadi fleksibel dan bisa dibentuk sesuai dengan keinginan.
Polarisasi politik, disinformasi, dan peran buzzer serta framing telah mengubah cara kita memandang dunia.
Emosi, bukan fakta, yang kini lebih berkuasa dalam membentuk opini publik.
Untuk kembali menemukan kebenaran yang sejati, kita perlu kritis dalam menyaring informasi, mengedepankan bukti, dan menghindari terjebak dalam narasi yang hanya memperburuk perpecahan.
Penulis: Indah Nurul Ainiyah


















