Racun TikTok Menjadikan Mahasiswa Sasaran Empuk Konsumsi Digital Masa Kini

Magisterikom.umsida.ac.id – TikTok hari ini sudah jauh berubah dari sekadar aplikasi hiburan.

Platform ini kini menjadi ruang yang memadukan video pendek, tren, promosi, ulasan, live, hingga transaksi belanja dalam satu alur yang sangat mulus.

Di titik inilah istilah “racun TikTok” terasa relevan.

Bukan karena platform ini berbahaya secara langsung, melainkan karena ia mampu membentuk rasa penasaran, dorongan mengikuti tren, lalu mendorong keputusan belanja yang spontan.

Penelitian Dr Didik Hariyanto dan Risma Dewi Wahyu Mufti tentang pengaruh content marketing di TikTok dan FoMO terhadap impulsive buying pada mahasiswa Umsida memperlihatkan bahwa mahasiswa memang menjadi kelompok yang sangat rentan terhadap pola ini.

Baca juga: Kreator Digital di Persimpangan Antara AI dan Orisinalitas

TikTok Bukan Lagi Sekadar Ruang Hiburan

Dalam pendahuluan penelitian dijelaskan bahwa TikTok berkembang dari media hiburan menjadi platform yang memiliki fitur belanja online melalui TikTok Shop.

Perubahan ini penting, karena pengalaman pengguna tidak lagi berhenti pada menonton konten.

Setelah tertarik pada review, promosi, atau endorsement, pengguna bisa langsung membeli produk tanpa keluar dari aplikasi.

Proses ini membuat batas antara hiburan dan transaksi menjadi sangat tipis.

Riset tersebut juga menyoroti bahwa Indonesia memiliki jangkauan iklan TikTok yang sangat besar, bahkan menjadi yang kedua tertinggi secara global pada Januari 2024.

Artinya, mahasiswa di Indonesia, termasuk di Umsida, hidup dalam arus paparan konten pemasaran yang sangat padat.

Mereka tidak hanya melihat produk, tetapi terus-menerus dipertemukan dengan gaya hidup, simbol tren, dan standar konsumsi baru yang tampak normal di layar.

Lihat juga: Generasi Z dan Negosiasi Identitas: Menavigasi Aktivisme dan Popularitas di Ruang Digital

Mengapa Mahasiswa Menjadi Pasar yang Paling Rentan
Sumber: Ilustrasi AI

Penelitian ini secara tegas menjelaskan bahwa mahasiswa adalah subjek yang tepat karena mereka aktif di TikTok, dekat dengan tren digital, dan sedang berada dalam fase pencarian jati diri.

Kondisi ini membuat mereka lebih mudah terpapar tekanan sosial digital, terutama ketika konten pemasaran dikemas dengan sangat menarik dan terasa dekat dengan gaya hidup mereka.

Di bagian pembahasan, peneliti menegaskan bahwa mahasiswa merupakan kelompok muda yang mudah terdorong oleh promosi, review penggunaan produk, endorsement, dan iklan yang kreatif.

Bahkan, dalam naskah itu tertulis bahwa “mahasiswa merupakan anak muda yang paling mudah dipengaruhi.”

Menurut Dr Didik Hariyanto, hal ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan hanya pada produk yang dijual, tetapi pada cara konten itu membangun keinginan, rasa penasaran, dan dorongan untuk ikut tren.

Di sinilah istilah “racun TikTok” menjadi masuk akal. Konten yang awalnya hanya lewat di beranda bisa berubah menjadi kebutuhan semu.

Orang merasa ingin membeli bukan karena benar-benar butuh, tetapi karena takut tertinggal, ingin mencoba, atau ingin merasa setara dengan tren yang sedang ramai.

Bukan Sekadar Belanja Tetapi Fenomena Budaya Digital

Yang menarik, penelitian ini membuktikan bahwa content marketing di TikTok berpengaruh signifikan terhadap impulsive buying, dengan nilai signifikansi 0,006.

FoMO juga berpengaruh signifikan dengan angka 0,000. Ini berarti perilaku belanja impulsif mahasiswa bukan kejadian sepele, tetapi hasil dari pertemuan antara strategi pemasaran digital dan kondisi psikologis pengguna muda.

Karena itu, budaya “racun TikTok” sebaiknya tidak dibaca hanya sebagai candaan media sosial.

Ia adalah gejala budaya digital yang memperlihatkan bagaimana hiburan, tren, dan belanja telah menyatu.

Mahasiswa perlu lebih kritis membaca konten yang mereka konsumsi.

Jika tidak, ruang digital yang awalnya menjadi tempat mencari hiburan justru berubah menjadi ruang yang terus menggoda untuk membeli tanpa berpikir panjang.

Sumber: Pengaruh Content Marketing di Tiktok dan FOMO (Fear Of Missing Out) terhadap Impulsive Buying pada Mahasiswa UMSIDA

Penulis: Indah Nurul Ainiyah

Nur Maghfirah A., M.Med.Kom

Nama:

Tanggal Lahir

Scholar:

OJS:

Scopus:

 

This will close in 20 seconds