Religi di Media Sosial, Antara Dakwah, Estetika, dan Spiritualitas yang Dipertontonkan

Magisterikom.umsida.ac.id – Media sosial telah mengubah banyak hal, termasuk cara agama dipahami dan disebarkan.

Jika dulu dakwah identik dengan mimbar, pengajian, atau ruang-ruang komunitas, kini konten religi hadir dalam bentuk video pendek, desain visual estetik, hingga narasi personal yang mudah diakses kapan saja.

Fenomena ini melahirkan sosok baru dalam ruang keagamaan digital, yaitu influencer religi.

Mereka bukan hanya menyampaikan pesan keagamaan, tetapi juga membangun citra diri yang dekat dengan audiens.

Konten yang dibagikan tidak lagi terbatas pada ceramah, tetapi juga gaya hidup, keseharian, hingga cara berpakaian yang mencerminkan identitas religius.

Dalam perspektif komunikasi, kondisi ini dapat dilihat melalui konsep mediatization of religion, yaitu proses ketika agama tidak hanya disampaikan melalui media, tetapi juga dibentuk oleh logika media itu sendiri.

Baca juga: Ketika Mahasiswa Hukum Kehilangan Batas dan Gagal Menjaga Kesadaran Kesusilaan

Dakwah di Era Algoritma dan Influencer Religi
Sumber: Dokumentasi Istimewa

Media sosial memberikan peluang besar bagi penyebaran dakwah.

Akses yang luas membuat pesan keagamaan dapat menjangkau audiens yang lebih beragam, termasuk generasi muda yang sebelumnya mungkin kurang terlibat dalam ruang-ruang keagamaan konvensional.

Influencer religi menjadi jembatan antara nilai-nilai agama dan gaya komunikasi yang lebih relevan dengan perkembangan zaman.

Bahasa yang santai, visual yang menarik, serta format konten yang singkat membuat dakwah terasa lebih dekat dan mudah dipahami.

Namun, di balik kemudahan ini, terdapat pengaruh algoritma yang kuat.

Konten yang muncul di linimasa sering kali bukan yang paling mendalam, tetapi yang paling menarik perhatian.

Hal ini berpotensi menggeser fokus dari substansi ke bentuk, dari pemahaman ke popularitas.

Akibatnya, dakwah di media sosial tidak hanya menjadi aktivitas penyampaian pesan, tetapi juga bagian dari ekosistem digital yang kompetitif.

Lihat juga: Mengapa Konten Sensasional Selalu Menang di Media Sosial

Estetika Kesalehan dan Spiritualitas Performatif

Salah satu fenomena yang muncul adalah estetika kesalehan, di mana nilai-nilai religius ditampilkan melalui visual yang rapi, indah, dan menarik.

Konten seperti outfit religi, suasana ibadah, hingga potongan ayat yang dikemas secara estetik menjadi bagian dari tren ini.

Dalam kajian budaya, hal ini dapat dipahami sebagai bentuk konstruksi makna, di mana kesalehan tidak hanya dirasakan secara pribadi, tetapi juga ditampilkan di ruang publik digital.

Identitas religius menjadi sesuatu yang bisa dilihat, diukur, bahkan dibandingkan.

Di sisi lain, muncul pula konsep spiritualitas performatif, yaitu ketika praktik keagamaan tidak hanya dilakukan untuk kebutuhan spiritual, tetapi juga untuk ditampilkan kepada orang lain.

Media sosial memberikan ruang bagi individu untuk menunjukkan aktivitas religiusnya sebagai bagian dari identitas diri.

Fenomena ini tidak sepenuhnya negatif, karena dapat menginspirasi dan mendorong orang lain untuk berbuat baik.

Namun, ada risiko ketika makna spiritual bergeser menjadi sekadar tampilan luar.

Antara Komodifikasi dan Ruang Refleksi Baru

Religi di media sosial juga tidak lepas dari proses komodifikasi. Konten keagamaan dapat dikaitkan dengan endorsement, branding, hingga monetisasi.

Hal ini menunjukkan bahwa agama tidak hanya menjadi nilai, tetapi juga bagian dari ekonomi digital.

Dalam perspektif cultural studies, kondisi ini mencerminkan bagaimana budaya, termasuk agama, diproduksi dan dikonsumsi dalam sistem media.

Religi menjadi bagian dari praktik sosial yang terus berubah mengikuti konteks zaman.

Meski demikian, media sosial tetap memiliki potensi sebagai ruang refleksi.

Banyak individu yang menemukan makna baru, komunitas yang suportif, serta cara memahami agama yang lebih personal melalui platform digital.

Pada akhirnya, religi di media sosial berada di antara berbagai kepentingan dan makna.

Ia bisa menjadi sarana dakwah, ruang ekspresi, sekaligus bagian dari industri.

Tantangannya adalah bagaimana menjaga keseimbangan, agar spiritualitas tidak kehilangan kedalamannya di tengah arus visual dan popularitas.

Dengan kesadaran yang tepat, media sosial dapat menjadi ruang yang tidak hanya memperlihatkan agama, tetapi juga memperdalam pemahaman dan pengalaman spiritual secara lebih autentik.

Penulis: Indah Nurul Ainiyah

Nur Maghfirah A., M.Med.Kom

Nama:

Tanggal Lahir

Scholar:

OJS:

Scopus:

 

This will close in 20 seconds