Beda Platform, Beda Cara Audiens Memaknai Pesan

Magisterikom.umsida.ac.id – Pernah kah kalian melihat seorang influencer yang mereview produk mendapat banyak respons positif di TikTok, tetapi ketika konten atau pernyataannya dibicarakan di X.

Kenapa tanggapan yang muncul justru berbeda? Fenomena semacam ini cukup menarik untuk melihat bagaimana sebuah pesan dapat memperoleh pemaknaan yang berbeda ketika hadir di ruang media sosial yang berbeda.

Pesan yang disampaikan sebenarnya dapat sama.

Namun, cara audiens menerima, membicarakan, dan memberikan respons terhadap pesan tersebut tidak selalu seragam.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa komunikasi digital tidak hanya berkaitan dengan isi pesan, tetapi juga dengan medium yang digunakan untuk menyampaikannya.

TikTok dan X, misalnya, memiliki karakter komunikasi yang berbeda.

Baca Juga: Ketika Budaya Organisasi Membentuk Cara Orang Berkomunikasi

TikTok lebih banyak menghadirkan komunikasi melalui video, suara, visual, komentar, dan berbagai bentuk interaksi yang berkembang dari konten.

Sementara itu, X memiliki karakter percakapan berbasis teks yang memungkinkan pengguna memberikan tanggapan, mengutip unggahan, serta mengembangkan suatu topik melalui rangkaian percakapan.

Perbedaan karakter tersebut dapat menciptakan pengalaman komunikasi yang berbeda bagi audiens.

Ketika Pesan Berpindah Platform
Sumber X @Alpvkart_Mentega

Sebuah konten yang awalnya muncul di TikTok dapat berpindah ke X melalui unggahan ulang, tangkapan layar, kutipan, maupun pembahasan pengguna.

Ketika berpindah platform, pesan tersebut tidak selalu hadir dalam konteks yang sama.

Di TikTok, audiens mungkin mengenal seorang influencer melalui rangkaian konten sebelumnya.

Interaksi yang berlangsung berulang dapat membentuk persepsi tertentu terhadap sosok tersebut.

Baca Juga: Dari Penolakan ke Pengalaman, Cara Mahasiswa Ikom Belajar Jurnalistik

Ketika influencer menyampaikan suatu pendapat, audiens dapat menafsirkannya berdasarkan pengetahuan dan pengalaman mereka terhadap konten-konten sebelumnya.

Sementara itu, ketika pernyataan yang sama muncul di X, audiens dapat menemukan pesan tersebut melalui percakapan yang berbeda.

Pengguna mungkin memberikan komentar, mengutip unggahan, atau menghubungkannya dengan isu lain yang sedang dibicarakan.

Akibatnya, satu pesan dapat memperoleh tanggapan yang beragam.

Hal ini memperlihatkan bahwa makna pesan tidak selalu berdiri sendiri.

Konteks, hubungan antara komunikator dan audiens, serta medium tempat pesan diterima dapat memengaruhi proses pemaknaan.

Dalam komunikasi digital, medium bukan sekadar tempat untuk memindahkan pesan, tetapi juga menjadi bagian dari lingkungan tempat pesan tersebut dipahami.

Karena itu, respons yang berbeda di TikTok dan X tidak otomatis menunjukkan bahwa salah satu kelompok pengguna memiliki pandangan yang sama secara keseluruhan.

Perbedaan respons dapat muncul karena karakter interaksi dan konteks percakapan yang berkembang di masing-masing platform.

Audiens Tidak Hanya Menerima Pesan
Sumber Pexels

Perkembangan media sosial juga membuat posisi audiens dalam proses komunikasi semakin aktif.

Pengguna tidak hanya menerima informasi, tetapi dapat memberikan komentar, membagikan kembali konten, menambahkan sudut pandang, hingga membentuk percakapan baru.

Dalam situasi tersebut, makna sebuah pesan dapat berkembang setelah diterima audiens.

Sebuah video yang dibuat untuk menyampaikan pendapat tertentu, misalnya, dapat memperoleh interpretasi berbeda ketika dipotong, dikutip, atau dibicarakan kembali oleh pengguna lain.

Fenomena tersebut menjadi penting dalam komunikasi digital karena persepsi terhadap seorang influencer, brand, maupun suatu isu tidak hanya dibentuk oleh komunikator.

Audiens juga ikut berperan dalam membangun makna melalui interaksi yang mereka lakukan.

Bagi praktisi komunikasi, kondisi ini menunjukkan pentingnya memahami karakter masing-masing platform sebelum menyampaikan pesan.

Pesan yang berhasil membangun respons tertentu di satu media sosial belum tentu menghasilkan respons yang sama ketika dibawa ke platform lain.

Pada akhirnya, beda platform dapat berarti beda konteks komunikasi.

TikTok dan X sama-sama menjadi ruang bagi masyarakat untuk berinteraksi, tetapi memiliki karakter dan pola percakapan yang berbeda.

Memahami perbedaan tersebut membantu kita melihat bahwa komunikasi digital bukan sekadar persoalan menyampaikan pesan kepada sebanyak mungkin orang.

Lebih dari itu, komunikasi juga berkaitan dengan bagaimana pesan diterima, ditafsirkan, dan kembali dibentuk oleh audiens di ruang digital.

Penulis: Shafiqa Azwa Lysandra

Nur Maghfirah A., M.Med.Kom

Nama:

Tanggal Lahir

Scholar:

OJS:

Scopus:

 

This will close in 20 seconds