Magisterikom.umsida.ac.id – Setiap 30 September, pembahasan mengenai peristiwa Gerakan 30 September 1965 atau yang umum disebut G30S/PKI kembali ramai dibahas oleh publik, di sosmed maupun di kalangan masyarakat.
Peristiwa yang berlangsung pada malam 30 September hingga 1 Oktober 1965 tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah Indonesia modern.
Seiringnya berjalan nya waktu, info tentang G30S/PKI sangat mudah di cari hal tersebut membuat cara masyarakat berhadapan dengan informasi sejarah ikut berubah,
pembahasan mengenai peristiwa tersebut tidak lagi hanya ditemukan melalui buku sejarah, media cetak, televisi, atau dokumenter.
Kini, informasi mengenai G30S/PKI juga hadir melalui media sosial.
Potongan dokumenter, video singkat, infografis, utas, hingga konten edukasi dapat ditemukan dengan mudah melalui berbagai platform digital.
Dokumenter peristiwa G30S/PKI juga selalu diputar saat tanggal 30 September untuk mengingat masyarakat akan tragedi kelam di jaman itu, dan juga untuk menghormati jasa para korban G30S/PKI.
Audiens tidak hanya menerima informasi, tetapi juga dapat memberikan komentar, membagikan ulang, membuat konten lanjutan, bahkan menghadirkan sudut pandang mereka sendiri.
Bagi Ilmu Komunikasi, kondisi ini menarik untuk dilihat lebih jauh.
Sebab, ketika sebuah peristiwa sejarah masuk ke media sosial, yang berubah bukan hanya tempat penyebaran informasinya.
Cara pesan yang dikemas, disampaikan, diterima, dan dimaknai oleh audiens juga mengalami banyak perubahan.
Ketika Sejarah Dikemas Menjadi Konten Digital

Peristiwa G30S berlangsung pada malam 30 September hingga 1 Oktober 1965 dan melibatkan penculikan serta pembunuhan sejumlah perwira Angkatan Darat.
Para dewan jenderal dan perwira tinggi yang meninggal dunia atas kekejaman G30S/PKI yang kemudian ditemukan di sumur Lubang Buaya terdapat 7 perwira tinggi yang meninggal, diantaranya.
Letnan Jenderal Anumerta Ahmad Yani, Mayor Jenderal Raden Soeprapto, Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono, Mayor Jenderal, Siswondo Parman, Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan, Brigadir Jenderal Sutoyo Siswodiharjo, Kapten Lettu Pierre Andreas Tendean.
Peristiwa tersebut kemudian menjadi bagian dari rangkaian perubahan politik besar di Indonesia.
Baca Juga: Storytelling AI Jadi Cara Baru Menyampaikan Edukasi
Arsip Nasional Republik Indonesia menekankan pentingnya menggunakan berbagai sumber arsip untuk memahami peristiwa tersebut.
Di era media sosial, informasi dengan konteks sejarah yang panjang dapat hadir dalam format yang jauh lebih singkat.
Sebuah peristiwa dapat dirangkum menjadi video berdurasi beberapa menit, carousel Instagram, infografis, atau utas di media sosial.
Format tersebut membuat informasi lebih mudah ditemukan dan dibagikan.
Namun, proses penyederhanaan juga membuat cara penyampaian pesan menjadi hal yang penting untuk diperhatikan.
Dalam perspektif Ilmu Komunikasi, media bukan sekadar saluran untuk memindahkan informasi dari komunikator kepada audiens.
Karakteristik media dapat memengaruhi bagaimana pesan disusun dan bagaimana audiens berinteraksi dengannya.
Konten sejarah di media sosial, misalnya, tidak hanya berbicara tentang apa yang terjadi pada masa lalu.
Cara pembuat konten memilih judul, gambar, narasi, durasi, dan sumber juga menjadi bagian dari proses komunikasi.
Hal tersebut menunjukkan bahwa sejarah ketika masuk ke media digital mengalami proses pengemasan ulang.
Informasi yang sebelumnya hadir dalam bentuk panjang dapat disajikan dengan gaya komunikasi yang lebih visual, singkat, dan mudah dibagikan.
Audiens Tidak Hanya Menjadi Penerima Informasi

Info tentang G30S/PKI sekarang sangat mudah di temukan, tidak harus ke museum untuk mendapat info detail,
namun diberbagai sosial media juga memberikan info lengkap tentang peristiwa G30S/PKI ini.
Mereka dapat memberikan tanggapan, mengajukan pertanyaan, membagikan sumber lain, hingga membuat konten baru berdasarkan informasi yang mereka temukan.
Dalam konteks tersebut, satu konten mengenai G30S/PKI dapat berkembang menjadi percakapan yang lebih luas.
Kolom komentar, unggahan ulang, dan diskusi antarpengguna dapat menambahkan konteks maupun perspektif baru.
Situasi ini membuat literasi media menjadi penting.
Ketika menemukan konten sejarah di media sosial, audiens dapat membiasakan diri memeriksa sumber, melihat konteks, dan membandingkan informasi dengan referensi lain.
Sikap tersebut bukan berarti setiap informasi di media sosial harus langsung dianggap salah.
Sebaliknya, audiens perlu memahami bahwa konten digital merupakan hasil dari proses komunikasi yang memiliki cara pengemasan dan konteks tertentu.
G30S/PKI tidak hanya dapat dilihat sebagai peristiwa sejarah, tetapi juga sebagai fenomena komunikasi ketika narasi tentangnya terus diproduksi dan dibicarakan melalui berbagai media.
Baca Juga:4 Kepala Sekolah Muhammadiyah Surabaya Bergabung di Magister Pendidikan Dasar Umsida
Pada akhirnya, perkembangan media sosial membuat cara masyarakat berinteraksi dengan sejarah ikut berubah.
Jika dahulu informasi sejarah lebih banyak diterima melalui sumber yang bersifat satu arah,
kini audiens memiliki ruang yang lebih besar untuk berdiskusi dan memproduksi kembali pesan.
Karena itu, ketika sejarah G30S/PKI bertemu media sosial, yang menarik bukan hanya bagaimana sejarah tersebut diceritakan kembali,
tetapi juga bagaimana pesan tersebut dikemas, disebarkan, dan dimaknai oleh masyarakat di tengah arus komunikasi digital.
Penulis: Shafiqa Azwa Lysandra


















