magisterikom.umsida.ac.id – Dari banyaknya pilihan komunikasi digital, Mengapa seseorang memilih voice note ketika sebenarnya bisa mengetik pesan atau melakukan panggilan?.
kini pesan suara atau voice note menjadi fitur yang semakin akrab dalam percakapan sehari-hari.
Alih-alih mengetik panjang atau melakukan panggilan langsung, banyak pengguna memilih merekam suara dan mengirimkannya melalui aplikasi pesan.
Cara ini memungkinkan seseorang menyampaikan pesan dengan suara, tetapi tetap memberi keleluasaan kepada penerima untuk mendengarkannya kapan saja.
Popularitasnya juga terlihat dari penggunaan di WhatsApp. Pada 2023, WhatsApp mengungkapkan bahwa rata-rata tujuh miliar pesan suara dikirim setiap hari melalui platform tersebut.
Angka ini menunjukkan bahwa pesan suara telah menjadi bagian dari kebiasaan komunikasi digital masyarakat.
Antara Teks yang Terbatas dan Telepon yang Menuntut Respons

Baca Juga: Murah, Branded, dan Kontroversial: Mengapa Thrifting Sulit Ditinggalkan?
Dikutip dari Axios dan NPR. Voice note bukanlah fitur baru. WeChat telah memperkenalkan fitur pesan suara sejak 2011, sementara Apple menyusul dengan fitur serupa pada 2014.
Penggunaannya kemudian semakin meluas seiring hadirnya fitur pesan suara di berbagai platform digital.
Salah satu alasan seseorang memilih voice note adalah karena pesan teks dapat mengaburkan makna, sedangkan panggilan telepon bisa memicu rasa cemas.
Kalimat yang sebenarnya disampaikan dengan nada bercanda, kesal, sedih, atau antusias dapat diterima secara berbeda ketika hanya ditampilkan dalam bentuk tulisan.
Dalam percakapan melalui teks, penerima tidak dapat mendengar intonasi atau melihat ekspresi pengirim. Akibatnya, pesan yang tidak bermaksud marah bisa dianggap ketus, sementara candaan dapat terbaca serius.
Voice note memberikan tambahan konteks melalui suara. Intonasi, jeda, penekanan kata, dan cara berbicara membantu penerima memahami maksud pesan dengan lebih utuh.
Karena itu, bagi sebagian pengguna, berbicara melalui suara terasa lebih mudah ketika ingin menyampaikan sesuatu yang bermuatan emosi atau membutuhkan penjelasan panjang.
Pengguna yang diwawancarai Axios, misalnya, menghargai voice note karena kedekatan dan kemudahannya, serta kemampuannya menyampaikan hal seperti humor yang tidak selalu bisa dihadirkan teks.
Dibandingkan panggilan telepon, voice note juga memberi keleluasaan waktu. Panggilan bersifat sinkron sehingga kedua pihak harus tersedia di waktu yang sama, sedangkan voice note tidak mengharuskan siapa pun menyisihkan waktu khusus untuk menelepon.
Seorang narasumber dalam laporan NPR bahkan menilai telepon kini makin identik dengan urusan pekerjaan.
Pengirim bisa merekam ketika sempat, penerima mendengarkan ketika senggang. Voice note pun berada di antara teks dan telepon: menghadirkan unsur suara tanpa menuntut respons langsung.
Tapi Voice Note Tidak Selalu Cocok

Meski banyak digemari, voice note tidak sepenuhnya menggantikan percakapan langsung. Dalam ilmu komunikasi, voice note termasuk komunikasi asinkron, yakni komunikasi tanpa dialog bolak-balik secara langsung.
Seorang peneliti yang dikutip NPR menyatakan bahwa bentuk komunikasi asinkron tidak bisa menggantikan manfaat panggilan sinkron, yang memungkinkan kita menangkap isyarat kebahasaan dan berbicara dengan lebih responsif.
Selera pengguna pun beragam. Seorang desainer perhiasan dalam laporan NPR mengaku tidak menyukai voice note dan lebih memilih pesan teks biasa.
Sementara itu, seorang pendiri startup dalam laporan Axios lebih menyukai telepon karena bisa saling menimpali dan bertukar respons seketika.
Artinya, tidak ada medium yang selalu paling baik. Teks, voice note, dan telepon memiliki kelebihan masing-masing. Pilihan terbaik bergantung pada konteks, kedekatan hubungan, serta kebutuhan pesan yang disampaikan.
Baca Juga: Komunikasi Publik yang Efektif bagi Seorang Public Relation
Pada akhirnya, memilih antara voice note dan telepon mungkin terlihat sepele. Tapi dari kebiasaan kecil inilah kita bisa melihat bagaimana orang menyesuaikan cara berbicara dengan waktu, suasana, dan lawan bicaranya.
Hal-hal seperti ini juga jadi bahan menarik untuk dibahas dalam ilmu komunikasi. Magister Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo membuka ruang diskusi dan penelitian untuk membaca fenomena semacam ini di era digital.
Sumber: NPR, “Are you getting more voice notes these days? You’re not alone” (16 April 2023), https://www.npr.org/2023/04/16/1170232936/voice-notes-messages-trend
Axios, “The voice note boom” (23 April 2023), https://www.axios.com/2023/04/23/voice-memo-whatsapp-imessage-hinge-slack.
Penulis: Dias Ikhtiyarun Syifa Jabiroh


















