Magisterikom.umsida.ac.id –Banyak orang tahu cara menyampaikan pendapat dengan baik. Namun, apakah kita juga sudah pandai mendengarkan?
Percakapan yang terasa lancar belum tentu berarti kedua pihak benar-benar saling memahami.
Seseorang bisa saja sibuk menyiapkan jawaban, memikirkan respons, atau menunggu giliran berbicara tanpa benar-benar menyimak apa yang disampaikan lawan bicaranya.
Padahal, komunikasi tidak hanya soal menyampaikan pesan. Pesan perlu diterima, dipahami, dan mendapat respons agar komunikasi dapat berlangsung secara efektif.
Lalu, mengapa bercerita terasa menyenangkan? Dan apa yang sebenarnya dilakukan oleh seorang pendengar yang baik?
Baca Juga: Perkuliahan S2 MPI Umsida Dorong Mahasiswa Kritis Membaca Realitas Pendidikan
Kenapa Kita Lebih Suka Bercerita?

Keinginan untuk bercerita ternyata bukan sekadar perasaan.
Peneliti Harvard, Diana Tamir dan Jason Mitchell, melalui penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) pada 2012, menemukan bahwa sekitar 30 hingga 40 persen ucapan manusia digunakan untuk menceritakan pengalaman atau informasi tentang dirinya sendiri.
Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa ketika seseorang berbicara mengenai dirinya, bagian otak yang berkaitan dengan sistem penghargaan (reward) ikut aktif.
Dalam eksperimen, peserta bahkan bersedia melepaskan sebagian uang untuk dapat berbicara mengenai dirinya sendiri.
(Dikutip dari PNAS, Tamir & Mitchell (2012) dan Medical News Today.)
Menariknya, bercerita menjadi semakin bermakna ketika seseorang mengetahui bahwa ceritanya akan didengar oleh orang lain.
Artinya, keinginan untuk berbicara juga berkaitan dengan kebutuhan untuk terhubung dan mendapatkan perhatian dari lawan bicara.
Karena itu, wajar jika seseorang merasa nyaman ketika menemukan orang yang mau mendengarkan ceritanya. Persoalannya muncul ketika percakapan berubah menjadi sekadar menunggu giliran untuk berbicara.
Ketika masing-masing orang sibuk memikirkan apa yang akan disampaikan berikutnya, pesan dari lawan bicara justru berisiko terlewat.
Di sinilah kemampuan mendengarkan menjadi penting.
(Dikutip dari TIME.)
Mendengarkan sering dianggap sama dengan mendengar. Padahal, keduanya memiliki perbedaan.
Mendengar dapat terjadi secara otomatis ketika seseorang menerima suara, sedangkan mendengarkan membutuhkan perhatian dan keterlibatan secara sadar.
Materi komunikasi dari Lumen Learning menjelaskan bahwa mendengarkan melibatkan proses menerima, memahami, dan merespons pesan.
Dalam komunikasi, proses tersebut membuat pendengar tidak hanya menjadi penerima pasif, tetapi ikut berperan dalam membangun percakapan.
Mendengarkan Bukan Berarti Diam Saja

Salah satu bentuknya adalah memberikan umpan balik. Pendengar dapat mengajukan pertanyaan, mengulang inti pesan, atau melakukan klarifikasi untuk memastikan bahwa apa yang dipahami sesuai dengan maksud pembicara.
Misalnya, ketika seorang teman bercerita tentang masalah yang sedang dihadapinya, kita tidak harus langsung memberikan solusi.
Bisa jadi, respons sederhana seperti, “Maksudmu kamu merasa seperti itu karena kejadian tadi?” justru menunjukkan bahwa kita benar-benar berusaha memahami.
Kajian mengenai keterampilan mendengar juga menempatkan kemampuan menerima pesan sebagai bagian penting dari komunikasi yang efektif.
Titus Indrajaya dalam kajian kepustakaannya menjelaskan bahwa komunikasi tidak hanya bergantung pada kemampuan menyampaikan pesan, tetapi juga kemampuan menerima dan memahami pesan dari pihak lain.
(Dikutip dari Titus Indrajaya, Pentingnya Ketrampilan Mendengar dalam Menciptakan Komunikasi yang Efektif.)
Mendengarkan secara aktif memang tidak selalu mudah.
Ada berbagai hambatan, seperti terburu-buru menyimpulkan cerita, menyiapkan jawaban sebelum lawan bicara selesai berbicara, memberikan penilaian terlalu cepat, atau membiarkan emosi memengaruhi cara kita memahami pesan.
Karena itu, mendengarkan membutuhkan perhatian terhadap kata-kata sekaligus perasaan dan konteks di balik pesan yang disampaikan.
Dalam kehidupan sehari-hari, bentuknya bisa sederhana. Menaruh ponsel ketika teman sedang bercerita, tidak memotong pembicaraan, mengajukan pertanyaan yang relevan, atau melakukan klarifikasi ketika ada bagian yang belum dipahami.
Pada akhirnya, komunikasi yang baik bukan hanya tentang siapa yang paling pandai berbicara.
Komunikasi juga ditentukan oleh kesediaan untuk memberi ruang kepada orang lain agar pesannya dapat didengar dan dipahami.
Pandai berbicara memang penting. Namun, percakapan baru benar-benar terasa terhubung ketika kita tidak hanya menunggu giliran untuk bicara, tetapi juga hadir untuk mendengarkan.
Baca Juga: Mengapa Voice Note Terasa Lebih Nyaman daripada Telepon?
Penulis: Dias Ikhtiyarun Syifa Jabiroh


















