Lebih Nyaman Lewat Chat, Mengapa Banyak Orang Sulit Mengungkapkan Perasaan?

Magisterikom.umsida.ac.id – Pernah merasa lebih mudah mengungkapkan perasaan lewat chat daripada berbicara langsung? Ada yang berani menulis pesan panjang untuk menyampaikan kecewa, rindu, atau perasaan kepada seseorang. Namun, saat bertemu langsung, kata-kata yang sudah ia siapkan justru sulit keluar.

Aplikasi pesan instan seperti WhatsApp memberi cara lain untuk menyampaikan hal yang sulit kita katakan langsung. Selain itu, seseorang bisa menyusun kalimat, menghapusnya, lalu menulis ulang sebelum mengirim.

Percakapan tatap muka berbeda karena menuntut respons seketika. Lalu, apa yang membuat mengungkapkan perasaan lewat chat terasa lebih nyaman?

Baca Juga: Sempat Hampir Menyerah, Amisa Melinda Raih Wisudawan Terbaik Pascasarjana Umsida

Chat Memberi Ruang Menyusun Kata
Sumber Pinterest

 

Pertama, chat memberi waktu untuk memikirkan respons. Pengguna tidak harus langsung menjawab atau menghadapi reaksi lawan bicara. Karena itu, ia bisa memilih kata yang paling tepat dan membaca ulang pesannya sebelum mengirim.

Dalam kajian komunikasi, perilaku ini berkaitan dengan self-disclosure atau keterbukaan diri. Istilah ini merujuk pada proses membagikan pikiran dan perasaan pribadi kepada orang lain.

Eksperimen Schouten, Valkenburg, dan Peter (2009) menemukan hal menarik. Keterbukaan diri lebih rendah pada kondisi tatap muka daripada kondisi chat berbasis teks maupun visual.

Namun, meta-analisis Ruppel dan rekan-rekannya (2017) menunjukkan hasil berbeda. Secara keseluruhan, keterbukaan diri lebih tinggi pada komunikasi tatap muka.

Perbedaannya bergantung pada ukuran keterbukaan, desain penelitian, dan jenis komunikasi bermedia. Jadi, anggapan bahwa orang selalu lebih terbuka lewat chat tidak sepenuhnya tepat.

Di Indonesia, Lea Martinez dan Nur Maghfirah Aesthetika dari Program Studi Ilmu Komunikasi UMSIDA meneliti keterbukaan diri anggota komunitas Connect Group lewat WhatsApp. Sebagian besar informan memenuhi dimensi jumlah, valensi, ketepatan dan kejujuran, serta maksud keterbukaan.

Namun, tiga informan dominan tidak memenuhi dimensi keintiman karena jarang membuka diri secara mendalam. Temuan ini tidak mewakili semua pengguna. Meski begitu, hasilnya menunjukkan bahwa berbagi lewat chat tidak otomatis membuat orang terbuka secara mendalam.

Baca Juga: Budaya Oversharing di Media Sosial dan Pentingnya Menjaga Batas Privasi

Lebih Mudah Menyampaikan, tetapi Rawan Salah Paham
Sumber Pinterest

Kenyamanan lewat chat bukan berarti tanpa risiko. Pesan yang berniat baik bisa terbaca berbeda. Balasan singkat seperti “terserah”, misalnya, terasa biasa bagi pengirim. Namun, penerima bisa menganggapnya sebagai tanda kesal.

Hal ini berkaitan dengan karakter computer-mediated communication (CMC), yaitu komunikasi lewat perantara teknologi. Pada teks, ekspresi wajah, intonasi, dan bahasa tubuh tidak sampai ke pembaca. Akibatnya, pembaca hanya menilai pesan dari kata dan konteks percakapan.

Kajian pada pasangan jarak jauh beda negara menjelaskan bahwa WhatsApp dan Instagram memberi ruang berekspresi lewat teks, suara, maupun visual (Anggreswari & Zulkha, 2025). Meski begitu, pesan tetap perlu jelas.

Beberapa kebiasaan sederhana bisa membantu. Pertama, tulis maksud dengan jelas. Misalnya, tulis “aku kecewa karena kemarin batal tanpa kabar” alih-alih “terserah”. Kedua, baca ulang pesan sebelum mengirim, terutama saat emosi tinggi.

Ketiga, untuk topik sensitif, jadikan chat sebagai pembuka. Setelah itu, lanjutkan lewat percakapan langsung atau telepon agar kedua pihak bisa membaca ekspresi dan respons.

Pada akhirnya, mengungkapkan perasaan lewat chat maupun bertemu langsung punya kelebihan dan keterbatasan masing-masing. Yang terpenting bukan cara yang paling mudah, melainkan memastikan lawan bicara memahami pesan dengan baik.

Penulis: Dias Ikhtiyarun Syifa Jabiroh

Nur Maghfirah A., M.Med.Kom

Nama:

Tanggal Lahir

Scholar:

OJS:

Scopus:

 

This will close in 20 seconds