Magisterikom.umsida.ac.id – Saat memilih produk, banyak konsumen tidak hanya membandingkan harga.
Cara sebuah brand berbicara kepada audiensnya, mulai dari gaya bahasa, isi pesan, hingga cara membalas komentar, ikut membentuk penilaian sebelum seseorang memutuskan membeli.
Fenomena ini semakin terasa di media sosial, tempat brand dan konsumen dapat berinteraksi hampir setiap saat.
Baca Juga: Lebih Nyaman Lewat Chat, Mengapa Banyak Orang Sulit Mengungkapkan Perasaan?
Pesan yang Jelas Membangun Kepercayaan

Dalam komunikasi pemasaran, pesan brand tidak berhenti pada informasi harga dan manfaat produk.
Pesan juga menunjukkan bagaimana brand ingin dikenal oleh audiensnya.
Brand perawatan kulit (skincare), misalnya, tidak cukup hanya menyebutkan manfaat produk.
Konsumen umumnya membutuhkan penjelasan tentang kandungan, cara penggunaan, dan kesesuaian dengan kebutuhan kulit mereka.
Penjelasan yang terbuka dan mudah dipahami membuat konsumen merasa lebih yakin sebelum membeli.
Hal ini sejalan dengan penelitian Moch Neezarth Al’Azmi dan Ferry Adhi Dharma yang terbit di House of Wisdom: Journal on Library and Information Sciences Umsida pada 2025.
Penelitian tentang strategi komunikasi interpersonal tenaga penjualan Informa Elektronik Suncity Sidoarjo itu menemukan bahwa sikap terbuka dan empatik, penguasaan pengetahuan produk, layanan purnajual, serta pemanfaatan media digital membantu meningkatkan loyalitas pelanggan dan memperkuat citra perusahaan.
Artinya, kepercayaan konsumen dibangun dari pengalaman berkomunikasi dengan brand, bukan hanya dari iklan.
Cerita yang Relevan Lebih Dekat dengan Konsumen

Selain menyampaikan informasi, brand dapat memakai storytelling.
Strategi ini menghadirkan cerita tentang produk, proses pembuatannya, nilai yang dibawa, atau pengalaman penggunanya.
Penelitian Khalisa Adhanaiya Prabadinalar Sentika dan rekan yang terbit di Indonesia Economic Journal pada 2026 menguji hal tersebut pada 386 konsumen Wardah di Surabaya.
Penelitian itu meneliti pengaruh video content marketing dan storytelling di TikTok terhadap keputusan pembelian.
Hasilnya, storytelling berpengaruh positif dan signifikan terhadap preferensi konsumen maupun keputusan pembelian. Adapun video content marketing berpengaruh positif dan signifikan terhadap preferensi konsumen, tetapi tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian.
Preferensi konsumen sendiri tidak terbukti menjadi perantara pengaruh keduanya terhadap keputusan pembelian.
Temuan ini menunjukkan bahwa konten video saja belum tentu mendorong pembelian. Cerita yang mampu membangun keterlibatan emosional dan sesuai dengan karakteristik target konsumen tampak berperan lebih besar.
Hal tersebut juga berkaitan dengan faktor lain yang dipertimbangkan konsumen sebelum membeli produk.
Menurut Kaprodi Magister Ilmu Komunikasi Umsida, Nur Maghfirah Aesthetika, M.Med.Kom., keputusan pembelian tidak selalu ditentukan oleh harga murah, voucher, atau potongan diskon. Cara brand membangun komunikasi, menyampaikan nilai produk, dan menjaga kepercayaan konsumen juga dapat memengaruhi pilihan mereka.
Baca Juga: Magister Pendidikan Dasar Umsida Integrasikan Nilai AIK dalam Roadmap Riset dan Abdimas
Interaksi setelah konten dipublikasikan juga tidak kalah penting. Respons terhadap pertanyaan, keluhan, maupun komentar menunjukkan bagaimana brand memperlakukan konsumennya.
Karena itu, balasan yang ramah, jelas, dan konsisten sama pentingnya dengan konten yang menarik.
Pada akhirnya, harga tetap menjadi pertimbangan dalam membeli produk. Meski begitu, konsumen tidak hanya melihat apa yang dijual, tetapi juga bagaimana sebuah brand berkomunikasi dengan mereka.
Dengan demikian, komunikasi yang jelas, relevan, dan konsisten membantu brand dikenal sekaligus dipercaya. Di era digital, kualitas komunikasi sama pentingnya dengan kualitas produk.
Penulis: Dias Ikhtiyarun Syifa Jabiroh


















