magisterikom.umsida.ac.id – Pernah berada dalam lingkungan kerja yang membuat seseorang harus berpikir berkali-kali sebelum menyampaikan pendapat?
Atau justru berada di tempat yang membuat setiap anggota bebas bertanya dan memberikan masukan? Perbedaan tersebut tidak selalu berkaitan dengan karakter individu.
Cara seseorang berkomunikasi juga dapat dipengaruhi oleh budaya yang berkembang di dalam organisasi.
Dalam sebuah organisasi, komunikasi berlangsung hampir setiap hari.
Mulai dari menyampaikan instruksi, berdiskusi, memberikan evaluasi, hingga menyelesaikan persoalan bersama.
Namun, keberadaan komunikasi belum tentu membuat seluruh informasi dipahami dengan cara yang sama.
Di sinilah budaya organisasi memiliki peran. Nilai, kebiasaan, dan pola hubungan yang berkembang di lingkungan kerja dapat membentuk bagaimana seseorang menyampaikan pesan, menerima informasi, bahkan merespons perbedaan pendapat.
Baca Juga: Gaya Komunikasi Gen Z di Dunia Kerja
Ketika Budaya Organisasi Memengaruhi Cara Berkomunikasi

Miskomunikasi sering kali dianggap sebagai persoalan sederhana antara pengirim dan penerima pesan.
Seseorang dianggap kurang jelas dalam menyampaikan informasi, sementara penerima dianggap keliru dalam memahami pesan.
Padahal, proses komunikasi dalam organisasi jauh lebih kompleks. Pesan tidak hanya dipengaruhi oleh kata-kata yang digunakan, tetapi juga oleh hubungan antara anggota, struktur organisasi, kebiasaan kerja, dan suasana komunikasi yang terbentuk.
Misalnya, dalam organisasi yang memiliki pola komunikasi sangat hierarkis, anggota mungkin lebih berhati-hati ketika menyampaikan kritik kepada pimpinan.
Akibatnya, informasi yang diterima pimpinan belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan.
Sebaliknya, lingkungan yang membuka ruang dialog memungkinkan anggota menyampaikan pertanyaan, memberikan klarifikasi, dan menyampaikan pendapat secara lebih terbuka. Dengan begitu, informasi yang berpotensi menimbulkan salah tafsir dapat segera diklarifikasi.
Setiap organisasi juga memiliki kebiasaan komunikasi yang berbeda. Ada lingkungan kerja yang terbiasa menggunakan komunikasi formal dan terstruktur. Ada pula yang mendorong komunikasi lebih terbuka dan informal.
Perbedaan tersebut kemudian membentuk ekspektasi mengenai bagaimana seseorang seharusnya berkomunikasi.
Dalam budaya organisasi yang terbuka, misalnya, memberikan umpan balik dapat menjadi bagian dari kebiasaan kerja. Sementara itu, dalam lingkungan yang lebih tertutup, anggota mungkin memilih menyimpan pendapat atau menyampaikan persoalan hanya melalui jalur tertentu.
Karena itu, miskomunikasi tidak selalu muncul karena seseorang tidak mampu menyampaikan pesan dengan baik. Budaya komunikasi yang berkembang di dalam organisasi juga dapat memengaruhi bagaimana pesan disampaikan, diterima, dan ditanggapi.
Membangun Ruang Komunikasi yang Lebih Terbuka

Miskomunikasi dapat terjadi ketika informasi tidak lengkap, pesan berubah saat diteruskan, atau penerima tidak memiliki konteks yang cukup.
Dalam situasi tertentu, persoalan tersebut dapat berkembang menjadi konflik internal dan menghambat koordinasi.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah membangun kebiasaan klarifikasi. Ketika informasi belum jelas, anggota organisasi perlu memiliki ruang untuk bertanya sebelum mengambil kesimpulan.
Selain itu, komunikasi dua arah juga penting. Informasi tidak seharusnya hanya bergerak dari pimpinan kepada anggota, tetapi juga memberikan kesempatan bagi anggota untuk menyampaikan respons dan kondisi yang mereka hadapi.
Penggunaan media komunikasi juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan. Pesan singkat dapat digunakan untuk informasi sederhana.
Sementara itu, persoalan yang membutuhkan diskusi lebih mendalam dapat disampaikan melalui pertemuan atau forum khusus.
Pada akhirnya, budaya organisasi bukan hanya tentang aturan tertulis atau nilai yang tercantum dalam dokumen. Budaya juga terlihat dari bagaimana orang berkomunikasi setiap hari.
Ketika organisasi membangun kebiasaan komunikasi yang terbuka, jelas, dan memungkinkan adanya umpan balik, potensi salah memahami pesan dapat diminimalkan.
Sebaliknya, ketika komunikasi hanya berjalan satu arah dan ruang klarifikasi terbatas, persoalan kecil dapat berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Karena itu, memahami komunikasi organisasi berarti melihat lebih jauh dari sekadar bagaimana pesan disampaikan. Cara organisasi membentuk budaya komunikasi turut menentukan bagaimana setiap orang bekerja, berkoordinasi, dan memahami satu sama lain.
penulis: Dias Ikhtiyarun Syifa Jabiroh


















