magisterikom.umsida.ac.id — Pernah melihat buah yang tiba-tiba bisa bicara? Atau organ tubuh yang seolah sedang mengeluh karena harus terus bekerja? Di media sosial, hal-hal yang biasanya diam kini bisa tampil seolah hidup.
Buah, sayuran, benda sehari-hari, hingga organ tubuh dibuat memiliki wajah, suara, dan karakter melalui bantuan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Menariknya, konten semacam ini tidak hanya digunakan untuk hiburan. Banyak kreator mulai memanfaatkannya untuk menyampaikan informasi dan edukasi.
Materi yang biasanya disampaikan melalui penjelasan panjang kini dikemas menjadi video singkat dengan karakter, dialog, dan alur cerita.
Di sinilah storytelling menjadi bagian penting.
Konten edukasi selama ini sering hadir dalam bentuk penjelasan, daftar informasi, atau penyampaian materi secara langsung.
Format tersebut tetap dibutuhkan, tetapi kebiasaan audiens dalam menikmati media sosial membuat cara penyampaian pesan ikut berkembang.
Video pendek memberikan ruang bagi informasi untuk disampaikan dengan cara yang lebih sederhana dan visual.
Alih-alih mengatakan bahwa suatu makanan memiliki kandungan atau manfaat tertentu, misalnya, kreator dapat membuat makanan tersebut seolah berbicara dan memperkenalkan dirinya sendiri.
Baca Juga: Dari Scroll ke Riset Mengapa Mahasiswa S2 Perlu Membaca Media Secara Kritis
Cara ini membuat informasi tidak hanya hadir sebagai fakta, tetapi juga sebagai pengalaman mengikuti sebuah cerita.
Karakter yang berbicara, dialog yang sederhana, hingga situasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dapat membantu audiens memahami pesan tanpa harus berhadapan dengan penjelasan yang terlalu panjang.
AI Membantu Menghidupkan Ide Kreatif

Dengan adanya AI membantu proses tersebut semakin mudah dilakukan.
Kreator dapat menggunakan AI untuk membantu mengembangkan ide, membuat karakter, menghasilkan visual, hingga mendukung proses produksi suara.
Benda yang sebelumnya hanya menjadi objek dapat diubah menjadi tokoh dalam sebuah cerita.
Sebuah pisang dapat menjadi karakter yang menjelaskan kandungan nutrisinya.
Jantung dapat “bercerita” tentang tugasnya memompa darah.
Bahkan konsep yang sulit divisualisasikan dapat dikemas menjadi adegan yang lebih mudah dibayangkan.
Namun, AI tetap berada pada posisi sebagai alat bantu.
Kreator tetap memiliki peran utama dalam menentukan pesan, memilih informasi, memahami karakteristik audiens, serta menyusun alur cerita.
Teknologi dapat membantu menghasilkan visual yang menarik, tetapi arah komunikasi tetap ditentukan oleh manusia.
Menarik Saja Tidak Cukup

Di balik proses produksi yang semakin mudah, storytelling berbasis AI juga memiliki tantangan. Salah satunya adalah akurasi informasi.
AI dapat menghasilkan informasi yang terlihat meyakinkan, tetapi belum tentu seluruhnya benar.
Karena itu, kreator perlu melakukan pemeriksaan dan memastikan informasi yang digunakan berasal dari sumber yang dapat dipercaya, terutama ketika konten membahas kesehatan, pendidikan, sains, atau topik yang membutuhkan ketepatan.
Hal ini menjadi semakin penting ketika target audiensnya adalah anak-anak dan remaja.
Bahasa yang sederhana memang membuat informasi lebih mudah diterima, tetapi penyederhanaan tidak boleh mengubah makna atau menghilangkan fakta penting.
Selain akurasi, penggunaan visual, suara, dan karakter hasil AI juga perlu memperhatikan aspek etika serta hak cipta.
Kreativitas dalam membuat konten perlu berjalan bersama dengan tanggung jawab terhadap informasi yang disampaikan.
Baca Juga: 818 Mahasiswa Baru FBHIS Umsida Resmi Bergabung, Fortama Jadi Awal Perjalanan Baru
Fenomena storytelling AI memperlihatkan bahwa perkembangan teknologi tidak hanya mengubah cara konten dibuat, tetapi juga cara pesan dikomunikasikan kepada audiens.
Informasi edukatif kini dapat hadir melalui karakter yang berbicara, konflik sederhana, percakapan singkat, dan visual yang menarik.
Format tersebut membuat batas antara edukasi dan hiburan menjadi semakin dekat.
Bagi audiens yang terbiasa mengonsumsi video pendek, pendekatan storytelling dapat menjadi salah satu cara untuk membuat informasi terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, teknologi hanyalah bagian dari proses. Daya tarik sebuah konten edukasi tetap bergantung pada bagaimana kreator memahami audiens, memilih informasi yang tepat, dan mengubahnya menjadi cerita yang mudah dipahami.
Penulis: Dias Ikhtiyarun Syifa Jabiroh


















