Dari Scroll ke Riset Mengapa Mahasiswa S2 Perlu Membaca Media Secara Kritis

Magisterikom.umsida.ac.id – Membuka media sosial kini menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.

Dalam beberapa menit, seseorang dapat berpindah dari berita, video pendek, komentar pengguna, hingga konten opini.

Kebiasaan tersebut membuat informasi hadir dengan sangat cepat. Namun, kecepatan menerima informasi tidak selalu diikuti dengan kebiasaan untuk memahami isi dan konteksnya.

Bagi mahasiswa S2, kondisi ini dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda.

Media digital tidak hanya menjadi tempat mencari informasi. Media juga dapat menjadi ruang untuk mengamati bagaimana komunikasi berlangsung di tengah masyarakat.

Baca Juga: Beda Platform, Beda Cara Audiens Memaknai Pesan

Di sinilah kemampuan membaca media secara kritis menjadi penting.

Mahasiswa tidak cukup hanya mengetahui informasi yang sedang ramai. Mereka juga perlu memahami bagaimana sebuah pesan dibuat, disampaikan, diterima, dan dimaknai oleh audiens.

Ketika Informasi Datang Tanpa Henti
Sumber Pexels

Media sosial membuat informasi hadir dalam berbagai bentuk. Berita dapat muncul melalui unggahan media, video pendek, infografis, komentar, hingga konten dari kreator.

Arus informasi tersebut membuat proses menerima pesan berlangsung semakin cepat.

Dalam kondisi tertentu, audiens dapat langsung memberikan respons sebelum memahami informasi secara utuh.

Konten dengan judul menarik atau visual yang kuat juga lebih mudah mendapatkan perhatian.

Padahal, sebuah pesan memiliki konteks yang perlu dipahami.

Siapa yang menyampaikan pesan, kepada siapa pesan ditujukan, media apa yang digunakan, dan bagaimana pesan dikemas dapat memengaruhi penerimaannya.

Dalam perspektif Ilmu Komunikasi, hal tersebut menjadi menarik untuk diamati.

Pesan tidak berdiri sendiri. Proses komunikasi juga dipengaruhi oleh komunikator, media, audiens, serta situasi yang melingkupinya.

Karena itu, mahasiswa S2 dapat melihat media sebagai objek pengamatan.

Konten yang sedang ramai di media sosial, misalnya, dapat menjadi pintu masuk untuk memahami berbagai fenomena komunikasi.

Mahasiswa dapat mengamati bagaimana sebuah isu dibicarakan, bagaimana audiens memberikan tanggapan, atau bagaimana pesan yang sama memperoleh respons berbeda ketika berpindah platform.

Kebiasaan scroll pun dapat diarahkan menjadi aktivitas yang lebih reflektif.

Bukan berarti setiap konten harus dianalisis secara akademik. Namun, mahasiswa dapat membangun kebiasaan sederhana untuk bertanya sebelum menerima informasi.

Dari mana informasi tersebut berasal? Bagaimana pesan dikemas? Siapa yang menjadi sasaran? Mengapa konten tersebut mendapatkan perhatian? Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini dapat membantu mahasiswa melihat media dengan sudut pandang yang lebih kritis.

Dari Konsumen Konten Menjadi Pembaca yang Kritis
Sumber Pexels

Membaca media secara kritis bukan berarti selalu meragukan setiap informasi.

Kemampuan tersebut lebih berkaitan dengan kebiasaan memahami pesan sebelum mengambil kesimpulan.

Baca Juga: Bukan Sekadar Selempang, Rizqy Bawa Semangat Pengabdian sebagai Duta Pencerah UMSIDA

Bagi mahasiswa S2 Ilmu Komunikasi, kebiasaan ini juga dapat menjadi bagian dari proses akademik.

Fenomena yang ditemukan ketika menggunakan media sosial dapat berkembang menjadi bahan observasi dan pertanyaan penelitian.

Misalnya, sebuah tren di TikTok tidak hanya dapat dilihat dari jumlah penonton atau komentar.

Mahasiswa dapat melihat bagaimana kreator membangun pesan, bagaimana audiens merespons, serta bagaimana konten tersebut berkembang setelah dibagikan ke platform lain.

Hal serupa dapat dilakukan terhadap fenomena komunikasi di berbagai ruang digital.

Perubahan gaya komunikasi, tren konten, perilaku audiens, hingga cara organisasi menyampaikan pesan dapat menjadi fenomena yang menarik untuk dikaji.

Dengan cara tersebut, media digital dapat menjadi ruang pembelajaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Mahasiswa tidak hanya belajar konsep komunikasi dari buku atau ruang kelas.

Mereka juga dapat menemukan contoh nyata dari fenomena komunikasi yang terjadi di sekitar mereka.

Proses tersebut menunjukkan bahwa kegiatan scrolling sebenarnya dapat menjadi titik awal untuk membangun kepekaan terhadap fenomena komunikasi.

Setelah menemukan sesuatu yang menarik, mahasiswa dapat mengamati pola, mencari konteks, menyusun pertanyaan, dan menghubungkannya dengan konsep yang relevan.

Pada akhirnya, kemampuan membaca media secara kritis menjadi salah satu bagian penting dalam menghadapi derasnya informasi digital.

Mahasiswa S2 tidak hanya dituntut untuk menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu memahami bagaimana pesan bekerja di tengah masyarakat.

Dari scroll ke riset, media digital dapat menjadi lebih dari sekadar ruang untuk mengikuti tren. Media juga dapat menjadi ruang untuk mengamati, mempertanyakan, dan memahami berbagai fenomena komunikasi secara lebih mendalam.

Penulis: Shafiqa Azwa Lysandra

Nur Maghfirah A., M.Med.Kom

Nama:

Tanggal Lahir

Scholar:

OJS:

Scopus:

 

This will close in 20 seconds