Magisterikom.umsida.ac.id – Pernah memilih foto berkali-kali sebelum mengunggahnya ke Instagram? Atau sengaja mencocokkan warna pakaian dengan foto agar profil terlihat lebih menarik?
Kebiasaan ini dekat dengan kehidupan pengguna media sosial. Instagram kini bukan hanya tempat berbagi cerita, melainkan juga ruang untuk membangun personal branding atau citra diri.
Lantas, apakah merawat Instagram demi personal branding merupakan hal yang wajar atau justru berlebihan?
Instagram sebagai Ruang Citra Diri

Personal branding adalah cara seseorang memperkenalkan dirinya melalui karakter, kemampuan, dan nilai yang ingin ditampilkan. Ada yang rutin membagikan outfit of the day (OOTD) agar dikenal modis, ada pula yang menampilkan pengalaman organisasi dan karya agar terlihat profesional. Artinya, unggahan tidak selalu dibuat spontan, karena ada kesan yang ingin dibangun.
Hal ini dibahas dalam penelitian Gilang Surendra, Hamidah Izzatu Laily, dan Dion Eriend (2025) pada The 5th ASPIKOM International Communication Conference. Penelitian tersebut melibatkan 20 mahasiswa dari Indonesia dan Filipina, masing-masing 10 orang, untuk mengkaji cara mereka menampilkan diri melalui Instagram dan Facebook.
Hasilnya, mahasiswa Indonesia yang menjadi partisipan cenderung memperhatikan estetika feed dan konsistensi visual. Temuan ini tidak mewakili seluruh pengguna, tetapi menunjukkan bahwa tampilan profil bisa menjadi bagian dari strategi membangun citra diri.
Baca Juga: Satu Bahasa, Beragam Suara: Memaknai Sumpah Pemuda di Ruang Digital
Tampil Menarik atau Justru Terbebani?

Merawat Instagram agar terlihat menarik bukanlah hal yang salah. Profil yang dikelola dengan baik dapat membantu seseorang memperkenalkan karya, memperluas relasi, hingga membuka peluang pekerjaan.
Namun, kebiasaan ini bisa menjadi beban ketika hampir setiap aktivitas ditimbang berdasarkan kelayakannya untuk diunggah.
Fenomena ini dapat dipahami lewat teori dramaturgi Erving Goffman dalam bukunya The Presentation of Self in Everyday Life (1959). Goffman menjelaskan bahwa seseorang menampilkan sisi dirinya secara berbeda sesuai situasi dan audiens, yang dikenal sebagai panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage).
Di Instagram, panggung depan terlihat saat seseorang memilih foto dan menyusun keterangan untuk membentuk kesan tertentu, sedangkan panggung belakang adalah sisi kehidupan yang tidak ditampilkan kepada publik.
Baca Juga: Kisah Inspiratif Wisudawan Ikom Umsida, Tuntaskan Studi di Tengah Kesibukan Bekerja
Artinya, profil yang rapi dan estetik tidak otomatis berarti seseorang berpura-pura. Namun, jika keinginan membangun citra membuat seseorang terus memikirkan penilaian orang lain, kebiasaan tersebut perlu dievaluasi.
Merawat Instagram demi personal branding tetap wajar selama digunakan untuk menunjukkan karya dan mengekspresikan diri. Sebaliknya, jika setiap aktivitas terasa harus menjadi konten, pengguna perlu kembali memahami tujuan mereka menggunakan media sosial.
Fenomena ini menarik dikaji dalam ilmu komunikasi, terutama untuk memahami pembentukan identitas di ruang digital. Melalui Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (MIKOM UMSIDA), mahasiswa dapat mendalami perubahan perilaku masyarakat dalam bermedia sosial.
Penulis: Dias Ikhtiyarun Syifa Jabiroh


















