Magisterikom.umsida.ac.id – Pernah menemukan istilah “orang have” atau “orang haven’t” di media sosial? Istilah yang kerap digunakan pengguna sosial media ini menjadi bagian dari permainan kata untuk melontarkan candaan atau sindiran, terutama ketika membicarakan uang, barang, dan kemampuan membeli sesuatu.
Keduanya sering digunakan dalam percakapan santai, baik untuk menggambarkan situasi diri sendiri maupun menanggapi unggahan orang lain.
Menariknya, istilah tersebut tidak selalu digunakan untuk menggambarkan kondisi keuangan secara serius. Dalam satu percakapan, “orang haven’t” bisa menjadi candaan antar teman.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana pengguna sosial media mengolah bahasa sehari-hari menjadi ungkapan yang lebih ringan, jenaka, dan mudah digunakan di media sosial.
Di balik permainan kata tersebut, ada cara berkomunikasi yang menarik untuk dilihat, terutama ketika humor bersinggungan dengan uang dan status sosial.
Baca Juga: Menakar Ulang Gengsi: Membaca Fenomena “In This Economy” dan Seni Bertahan Lewat “Downgrade”
Ketika “Have” Menjadi Penanda Status

Menurut Beautynesia, “orang have” dan “orang haven’t” termasuk istilah nyeleneh yang digunakan dalam percakapan digital.
Permainan kata ini kemudian berkembang menjadi berbagai variasi yang menggambarkan keadaan seseorang dengan cara yang lebih santai.
Ada istilah “orang had” untuk menggambarkan seseorang yang dahulu memiliki sesuatu atau pernah berkecukupan. Kemudian, “orang enough” digunakan untuk menggambarkan keadaan yang pas-pasan. Sementara itu, “orang not yet” merujuk pada sesuatu yang belum dimiliki atau masih ingin dicapai.
Makna masing-masing istilah tetap bergantung pada cara penggunaannya dalam percakapan.
Jika dilihat sekilas, rangkaian istilah tersebut seolah membentuk gambaran tentang berbagai kondisi kehidupan, mulai dari serba memiliki hingga berusaha memenuhi kebutuhan.
Padahal, istilah-istilah ini tidak dapat dijadikan patokan untuk menilai keadaan ekonomi seseorang secara nyata.
Seseorang yang bercanda sebagai “orang haven’t”, misalnya, belum tentu benar-benar tidak mampu membeli sesuatu. Bisa jadi, ia hanya sedang mengomentari harga barang yang dianggap mahal atau memilih mengutamakan kebutuhan lain.
Hal inilah yang membuat bahasa gaul menarik untuk diamati. Sebuah istilah tidak hanya memiliki arti berdasarkan susunan katanya, tetapi juga memperoleh makna dari situasi ketika istilah itu digunakan.
Pengguna bisa memakainya untuk menertawakan keadaan sendiri, membangun kedekatan dengan teman, atau menyampaikan sindiran tanpa harus mengungkapkannya secara langsung.
Dari “Worth It” hingga “In This Economy”

Baca Juga: Orasi Ilmiah Yudisium 2 Pascasarjana Umsida, Dr Kumara Aji Tekankan Pentingnya Tanggung Jawab Keilmuan
Humor, Kedekatan, dan Batas Sindiran
Humor dapat menjadi cara untuk membicarakan hal sensitif, termasuk uang, tanpa membuat percakapan terasa terlalu serius.
Permainan kata dengan akhiran -n’t, seperti “HAHAHAN’T”, “becusn’t”, dan “bagusn’t”, juga menunjukkan bagaimana bahasa dimodifikasi untuk menyampaikan respons atau sindiran dengan cara yang lebih jenaka.
Namun, candaan tidak selalu diterima dengan cara yang sama. Sebutan “orang haven’t”, misalnya, mungkin terasa lucu di antara teman dekat, tetapi bisa menyinggung ketika diarahkan kepada seseorang yang kondisi ekonominya tidak diketahui.
Artinya, makna pesan tidak hanya bergantung pada maksud pengirim, tetapi juga pada hubungan dan konteks interaksi.
Hal ini menunjukkan bahwa bahasa gaul bukan sekadar tren, melainkan bagian dari cara pengguna membangun kedekatan dan menampilkan diri di ruang digital.
Seperti dibahas dalam artikel “Second Account dan Strategi Presentasi Diri di Ruang Digital”, pilihan dalam berkomunikasi turut membentuk kesan yang ditampilkan seseorang kepada orang lain.
Pada akhirnya, istilah “orang have”, “orang haven’t”, dan “in this economy” memperlihatkan kreativitas pengguna sosial media dalam merespons pengalaman sehari-hari.
Namun, ada satu hal yang tetap perlu diperhatikan: apakah sebuah candaan membangun kedekatan atau justru tanpa sadar menertawakan kondisi orang lain?
Penulis: Dias Ikhtiyarun Syifa Jabiroh


















