Magisterikom.umsida.ac.id – Pernah berniat membuka media sosial selama lima menit, tetapi akhirnya menghabiskan waktu hingga berjam-jam? Kebiasaan ini semakin akrab dengan kehidupan digital masyarakat. Selain itu, beragam video pendek, meme, dan konten hiburan terus bermunculan sehingga pengguna terdorong untuk menggulir layar tanpa henti.
Fenomena tersebut kerap dikaitkan dengan istilah brain rot. Istilah ini menggambarkan kekhawatiran terhadap kebiasaan mengonsumsi konten digital secara berlebihan.
Oleh karena itu, dampaknya menjadi perhatian karena kebiasaan tersebut dapat mengganggu fokus, waktu belajar, dan aktivitas sehari-hari.
Dalam perspektif komunikasi digital, persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan durasi penggunaan media sosial. Cara seseorang menerima, memahami, dan mengolah informasi juga perlu diperhatikan.
Mengenal Brain Rot di Tengah Budaya Scrolling

Brain rot bukan istilah medis yang secara harfiah berarti otak mengalami pembusukan. Istilah ini lebih banyak digunakan untuk menggambarkan kekhawatiran terhadap dampak konsumsi konten digital berkualitas rendah secara berlebihan.
Pakar media sosial Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA), Nur Maghfirah Aesthetika, M.Med.Kom., pernah membahas fenomena ini dalam artikel Guru Inovatif berjudul “Ketahui Dampak Bahaya Brain Rot Karena Kecanduan Media Sosial!”.
Artikel tersebut menyoroti fenomena brain rot yang banyak dikaitkan dengan kebiasaan bermedia sosial, terutama di kalangan generasi Z.
Kehadiran media sosial memang memudahkan masyarakat memperoleh informasi dan hiburan. Namun, kemudahan tersebut juga dapat membuat pengguna menghabiskan terlalu banyak waktu di depan layar jika tidak disertai pengendalian diri.
Salah satu pemicunya adalah pola konsumsi konten yang serba cepat. Pengguna dapat berpindah dari satu video ke video lain hanya dalam hitungan detik.
Akibatnya, mereka berisiko terbiasa mencari hiburan instan dan kurang memberikan waktu untuk memahami informasi secara mendalam.
Meski demikian, sering menggunakan media sosial tidak serta-merta berarti seseorang mengalami brain rot. Jenis konten, durasi penggunaan, dan dampaknya terhadap kegiatan sehari-hari juga perlu dipertimbangkan.
Karena itu, penting bagi pengguna untuk mengenali kebiasaan digitalnya sendiri. Apabila scrolling mulai mengganggu waktu istirahat, kegiatan belajar, pekerjaan, atau interaksi dengan orang lain, kebiasaan tersebut perlu dievaluasi.
Baca Juga: Manajemen Isu dan Krisis: Tahapan dan Strategi Humas
Dampak Brain Rot terhadap Belajar dan Komunikasi

Selain berkaitan dengan penggunaan media sosial, fenomena brain rot juga memunculkan perhatian terhadap cara generasi muda belajar dan berkomunikasi.
Arus informasi yang cepat menuntut pengguna untuk tidak hanya menerima pesan, tetapi juga memahami konteks dan menilai kebenarannya.
Pakar teknologi pendidikan UMSIDA, Nurdyansyah, dikutip dalam tulisan kontributor Good News From Indonesia berjudul “Ancaman Brain Rot bagi Masa Depan Manusia” (24 September 2025).
Dalam tulisannya pada 18 Januari 2025, Nurdyansyah mengaitkan masifnya budaya scrolling pada generasi Z dan Alpha dengan tantangan terhadap kualitas belajar, pola komunikasi, serta kemampuan memecahkan masalah.
Pandangan tersebut menunjukkan pentingnya membangun kebiasaan mengakses informasi secara bijak. Dalam proses belajar, misalnya, seseorang perlu membaca, membandingkan sumber, dan menyusun pemahaman sebelum menarik kesimpulan.
Sementara itu, dalam komunikasi sehari-hari, kemampuan memahami pesan tidak kalah penting. Informasi yang beredar di media sosial sering disajikan secara singkat.
Oleh sebab itu, pengguna perlu memeriksa konteks agar tidak mudah salah memahami pesan atau menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Lalu, bagaimana cara menyikapi fenomena brain rot? Langkah awal dapat dimulai dengan mengatur waktu penggunaan media sosial.
Di samping itu, pengguna juga bisa memilih konten yang bermanfaat, membatasi kebiasaan membuka aplikasi tanpa tujuan, dan menyediakan waktu untuk membaca atau berdiskusi secara langsung.
Selain itu, pengguna perlu membiasakan diri memeriksa sumber informasi sebelum mempercayai atau membagikannya. Dengan cara ini, media sosial tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk menambah wawasan.
Pada akhirnya, teknologi digital bukan sesuatu yang harus dihindari. Hal yang lebih penting adalah kemampuan menggunakannya secara seimbang.
Dengan demikian, kebiasaan mengelola waktu, menjaga fokus, dan mengevaluasi informasi menjadi bagian dari literasi digital yang perlu terus dikembangkan.
Fenomena brain rot juga menunjukkan bahwa perkembangan teknologi perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai perilaku komunikasi masyarakat.
Bagi yang ingin mendalami perubahan komunikasi di era digital, Program Magister Ilmu Komunikasi UMSIDA menjadi salah satu pilihan untuk mempelajari fenomena media, perilaku audiens, dan strategi komunikasi secara lebih kritis.
Penulis: Dias Ikhtiyarun Syifa Jabiroh


















