magisterikom.umsida.ac.id –Setiap 28 Oktober, linimasa dipenuhi poster, tagar, dan ucapan Hari Sumpah Pemuda. Namun, makna Sumpah Pemuda di ruang digital tidak cukup dirayakan lewat unggahan, sebab ramainya peringatan belum tentu sebanding dengan kualitas persatuan.
Masyarakat dari berbagai daerah memang memakai bahasa yang sama di media sosial. Namun, bahasa yang sama tidak otomatis berarti ruang dialog yang sama. Apakah ruang digital benar-benar mempertemukan beragam suara, atau hanya mengumpulkan orang yang sudah sepaham?
Ruang Digital Bukan Ruang Netral

Sumpah Pemuda lahir dari Kongres Pemuda Kedua pada 27–28 Oktober 1928 di Batavia. Para pemuda dari berbagai latar belakang menyatukan tekad tentang tanah air, bangsa, dan bahasa persatuan. (Museum Sumpah Pemuda) Mereka bertemu dalam forum yang memang dirancang untuk merumuskan kesepahaman.
Media sosial berbeda. Platform dirancang untuk menjaga pengguna tetap terlibat, bukan mempertemukan perbedaan. Kajian di Jurnal Suara Politik (2025) menyebut algoritma berpotensi memperkuat polarisasi lewat filter bubble dan echo chamber, mempersempit ruang dialog, dan meningkatkan penyebaran disinformasi.
Meski begitu, tidak semua penelitian sepakat. Penelitian di Bengkulu mencatat bahwa sebagian studi mendukung adanya echo chamber, sementara yang lain menolaknya. Artinya, algoritma bukan satu-satunya kambing hitam, tetapi juga tidak bisa dianggap tidak berpengaruh.
Baca Juga: Pascasarjana Umsida Cetak 44 Magister Unggul dan Berdaya Saing Global
Cara Anak Muda Bersuara di Linimasa

Kondisi ini dekat dengan keseharian anak muda. Survei APJII 2026 mencatat pengguna internet Indonesia mencapai 235,26 juta jiwa, dengan penetrasi Gen Z 89,02 persen. Pada 2025, TikTok menjadi aplikasi media sosial yang paling sering diakses (35,17 persen).
Di ruang itu, anak muda berekspresi lewat potongan lagu di story, istilah gaul, dan komentar. Cara ini kreatif dan memperkuat rasa memiliki dalam kelompok. Namun, ada sisi yang perlu dikritisi.
Pertama, bahasa yang akrab bagi satu kelompok bisa terasa asing bagi kelompok lain. Istilah “orang have” dan “orang haven’t” mungkin lucu di antara teman dekat, tetapi bisa menyinggung ketika diarahkan kepada orang yang tidak dikenal. Bahasa persatuan hanya menjadi jembatan jika tidak berubah menjadi penanda siapa yang di dalam dan di luar lingkaran.
Kedua, halaman rekomendasi cenderung menampilkan konten yang sesuai kebiasaan pengguna, sehingga pendapat berbeda mudah terlewat. Fenomena akun kedua menunjukkan anak muda mencari ruang yang lebih aman untuk berekspresi. Ruang seperti ini bermanfaat, tetapi bisa membuat percakapan makin tertutup di kelompok yang sepaham.
Persatuan Butuh Lebih dari Seruan

Menyerukan persatuan itu mudah. Persatuan baru diuji ketika kita berhadapan dengan pendapat yang berbeda dan merasa tidak nyaman.
Seruan persatuan terkadang dipakai untuk meredam kritik, seolah perbedaan sama dengan memecah belah. Padahal, ikrar 1928 lahir dari upaya mempertemukan perbedaan, bukan menghapusnya.
Pengguna media sosial memang bertanggung jawab memahami konteks sebelum menanggapi, mengkritik dengan argumen, dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Namun, tanggung jawab itu tidak seharusnya ditimpakan sepenuhnya pada generasi muda.
Baca Juga: Berawal dari Kebiasaan Kecil, Dyah Tuhrotul Fuada Jadi Wisudawan Terbaik Umsida
Platform perlu lebih transparan tentang cara kerja rekomendasi, sementara lembaga pendidikan dan pemerintah perlu memperkuat literasi digital, termasuk pemahaman tentang algoritma.
Pada akhirnya, Sumpah Pemuda bisa dimaknai sebagai pertanyaan, bukan hanya peringatan: apakah kita sungguh mendengar suara yang berbeda, atau hanya mencari suara yang menggemakan pendapat sendiri? Satu bahasa tidak harus menghasilkan satu suara yang seragam, tetapi perlu ruang agar beragam suara tetap bisa didengar.
Bagi generasi muda yang ingin memahami hubungan media, masyarakat, dan perilaku komunikasi di era digital, Magister Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) membuka kesempatan mendalaminya secara kritis.
Penulis: Dias Ikhtiyarun Syifa Jabiroh


















