Magisterikom.umsida.ac.id – Pernah kah kamu menemui seseorang yang membuat story atau kesedar menuliskan beberapa potongan lirik lagu hanya untuk menyindir atau mengkode seseorang?.
Lagu kini tidak hanya menjadi teman saat mendengarkan musik, tetapi juga bagian dari cara Gen Z berkomunikasi di media sosial, atau hanya untuk sekedar menyampaikan perasaan yang sedang dirasakan saat itu.
Melalui Instagram Story, Notes, hingga video TikTok, pengguna sering membagikan potongan lagu atau lirik tertentu untuk menggambarkan suasana hati, menyampaikan pesan, bahkan memberikan isyarat kepada orang lain.
Kebiasaan ini memperlihatkan bahwa musik dapat menjadi salah satu media untuk menyampaikan pesan tanpa harus mengungkapkannya secara langsung.
Lagu Menjadi Cara Baru Menyampaikan Pesan

Pernah melihat teman mengunggah lagu galau di Instagram Story, lalu muncul rasa penasaran tentang siapa atau apa yang sedang dibicarakan? Fenomena seperti ini cukup akrab di media sosial.
Tidak sedikit pengguna yang memilih lagu tertentu karena liriknya dianggap mampu mewakili perasaan atau situasi yang sedang mereka alami.
Alih-alih menuliskan cerita panjang, seseorang cukup membagikan potongan lagu untuk memberikan gambaran mengenai apa yang sedang dirasakan.
Bahkan, pemilihan lagu terkadang menjadi cara untuk menyampaikan pesan kepada orang tertentu tanpa menyebutkan nama atau menjelaskan situasinya secara langsung.
Dalam perspektif Ilmu Komunikasi, kebiasaan tersebut dapat dikaitkan dengan komunikasi tidak langsung.
Pesan disampaikan melalui simbol atau media tertentu sehingga penerima perlu memahami makna di baliknya.
Dalam hal ini, lagu menjadi perantara yang membantu seseorang menyampaikan sesuatu kepada audiens.
Penggunaan lagu di media sosial juga membuat komunikasi terasa lebih ekspresif.
Perpaduan lirik, melodi, dan visual dalam sebuah unggahan dapat memberikan konteks tambahan terhadap pesan yang ingin disampaikan.
Dalam perspektif akademis, fenomena tersebut juga menunjukkan bahwa media sosial memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pesan melalui berbagai bentuk ekspresi.
Baca Juga: Brain Rot dan Budaya Scrolling dalam Komunikasi Digital
Ketua Program Studi Mikom Umsida, Nur Maghfirah Aesthetika, S.Sos., M.Med.Kom, menjelaskan bahwa penggunaan lagu di media sosial dapat dilihat sebagai salah satu bentuk komunikasi tidak langsung.
Pemilihan lirik atau potongan musik menjadi simbol yang digunakan seseorang untuk menyampaikan perasaan maupun pesan tertentu kepada audiens.
Namun, makna yang diterima belum tentu sama dengan maksud pengunggah karena setiap orang memiliki pengalaman dan sudut pandang yang berbeda.
Satu Lagu, Berbeda Makna bagi Setiap Audiens

Menariknya, pesan yang disampaikan melalui lagu belum tentu dimaknai dengan cara yang sama oleh setiap orang.
Seseorang mungkin mengunggah lagu karena menyukai melodinya, sementara orang lain justru menganggap unggahan tersebut sebagai kode atau sindiran tertentu.
Perbedaan pemaknaan ini berkaitan dengan pengalaman, kedekatan, dan sudut pandang masing-masing audiens.
Lagu yang sama bisa mengingatkan seseorang pada kenangan tertentu, tetapi bagi orang lain hanya menjadi musik yang enak didengar.
Hal tersebut menunjukkan bahwa komunikasi tidak hanya bergantung pada pesan yang dikirimkan, tetapi juga bagaimana penerima menafsirkan pesan tersebut.
Karena itu, penggunaan lagu sebagai media komunikasi dapat membuka ruang interaksi sekaligus menghadirkan beragam interpretasi.
Fenomena ini menjadi salah satu contoh menarik dari perkembangan komunikasi digital.
Melalui kajian di Magister Ilmu Komunikasi Umsida, penggunaan musik dan media sosial dapat dipahami lebih jauh sebagai bagian dari perubahan cara masyarakat membangun interaksi, menyampaikan pesan, dan memaknai simbol dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis Shafiqa Azwa Lysandra


















