Strategi Komunikasi Publik untuk Membangun Kepercayaan Masyarakat

Magisterikom.umsida.ac.id – Pernah membaca pengumuman kebijakan yang penjelasannya berubah-ubah, sehingga masyarakat justru merasa bingung? Situasi seperti ini dapat terjadi ketika lembaga menyampaikan informasi tanpa strategi komunikasi publik yang jelas. Di era media sosial, pesan yang kurang tepat bahkan bisa menyebar cepat dan memicu kesalahpahaman.

Karena itu, strategi komunikasi publik menjadi bagian penting dalam pengelolaan lembaga, baik pemerintah, organisasi, maupun institusi pendidikan.

Komunikasi yang efektif tidak hanya soal cara informasi disampaikan, tetapi juga bagaimana pesan itu dipahami masyarakat.

Memahami Strategi Komunikasi Publik
Sumber Pexels

Komunikasi publik adalah proses penyampaian informasi dari lembaga kepada masyarakat mengenai suatu kebijakan, program, atau kegiatan.

Prosesnya tidak berhenti pada penyampaian pesan, karena masyarakat juga dapat menanggapinya. Dengan demikian, lembaga perlu memastikan pesannya dapat dipahami dan tidak menimbulkan penafsiran yang keliru.

Untuk itu, strategi komunikasi publik perlu mempertimbangkan tujuan komunikasi, karakteristik audiens, isi pesan, saluran penyampaian, dan evaluasi terhadap respons masyarakat. Setiap unsur berperan agar informasi tersampaikan secara tepat.

Ketua Program Studi Magister Ilmu Komunikasi (Mikom) UMSIDA, Nur Maghfirah Aesthetika, S.Sos., M.Med.Kom., menjelaskan pemaknaan pesan dalam komunikasi digital melalui contoh penggunaan lagu di media sosial, sebagaimana dibahas dalam artikel Magisterikom UMSIDA.

Menurutnya, potongan lirik atau musik dapat menjadi simbol untuk menyampaikan perasaan maupun pesan tertentu. Namun, makna yang diterima audiens belum tentu sama dengan maksud pengunggah, karena setiap orang memiliki pengalaman dan sudut pandang yang berbeda.

Prinsip itu dapat dikaitkan dengan komunikasi publik. Informasi yang menurut lembaga sudah jelas belum tentu dipahami sama oleh masyarakat.

Oleh sebab itu, lembaga perlu memperhatikan kebutuhan audiens, memakai bahasa yang mudah dipahami, dan membuka ruang tanggapan.

Baca Juga: Brain Rot dan Budaya Scrolling dalam Komunikasi Digital

Pesan Harus Dipahami
Sumber Pinterest

Pentingnya strategi komunikasi publik juga tampak dalam penelitian di Kanal: Jurnal Ilmu Komunikasi UMSIDA. Salah satunya karya Anggun Mutiara Kasih dan Lukman Hakim (2026) tentang komunikasi publik dalam relokasi pedagang kaki lima di kawasan Malioboro, Yogyakarta. Penelitian ini melihat bagaimana pesan kebijakan relokasi diterima dan ditafsirkan oleh pedagang dan pengunjung.

Penelitian melibatkan 13 informan, yaitu lima pedagang, tiga asosiasi pedagang, dan lima pengunjung. Hasilnya menunjukkan bahwa kebijakan yang tidak konsisten dan kurangnya transparansi dalam pembagian tempat berjualan memunculkan kebingungan serta ketidakpercayaan.

Minimnya dialog dua arah juga memperkuat penolakan. Peneliti pun menekankan perlunya strategi komunikasi yang “participatory, transparent, and culturally adaptive”, yakni partisipatif, transparan, dan adaptif terhadap budaya setempat.

Kajian lain oleh Sayyid Quthb dan Subkhi Ridho (2026) membahas komunikasi krisis dalam polemik distribusi LPG 3 kg. Kajian ini menegaskan pentingnya penanganan krisis kebijakan publik di era media sosial. Penulisnya menyebut perlunya “komunikasi krisis yang preventif, konsisten, dan empatik”.

Baca Juga: Pascasarjana Umsida Gandeng Akademisi Malaysia Tingkatkan Kualitas Publikasi Internasional

Dari kedua penelitian tersebut, ada beberapa hal yang dapat menjadi perhatian lembaga.

Pertama, informasi perlu konsisten di berbagai saluran, karena perbedaan pesan antara pengumuman resmi, media sosial, dan penjelasan petugas dapat membuat masyarakat ragu.

Kedua, bahasa perlu jelas dan sesuai audiens agar masyarakat dari berbagai latar belakang memahami pesan.

Ketiga, lembaga perlu membangun komunikasi dua arah melalui kolom komentar, forum diskusi, layanan pengaduan, atau sesi tanya jawab, lalu memberi respons yang jelas.

Keempat, pemantauan di media sosial membantu mengenali kesalahpahaman sejak awal. Ketika muncul informasi keliru atau kritik, lembaga perlu memberi klarifikasi berdasarkan fakta secara terbuka dan tidak defensif.

Strategi komunikasi publik bukan tentang menyampaikan pesan sebanyak-banyaknya, melainkan memastikan informasi dapat dipahami dan membangun hubungan baik dengan masyarakat. Konsistensi, keterbukaan, empati, dan kesediaan mendengarkan menjadi unsur penting dalam proses tersebut.

Penulis: Dias Ikhtiyarun Syifa Jabiroh

Nur Maghfirah A., M.Med.Kom

Nama:

Tanggal Lahir

Scholar:

OJS:

Scopus:

 

This will close in 20 seconds